Welcome to

Maya Susanti

Home / On Thought / Starting A New Journey in Glasgow

Starting A New Journey in Glasgow

Hari ini, tepat dua pekan saya berada di Glasgow, Skotlandia, Britania Raya untuk mengenyam pendidikan master di University of Glasgow, tepatnya di program MSc Media Management.
Banyak pertanyaan seperti: mengapa Glasgow, mengapa UK, mengapa Media Management? Mengapa tidak belajar HI lagi? Kenapa meninggalkan karir yang sedang dirintis? Mengapa tidak kuliah di Indonesia saja? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tapi pertanyaan terakhir—yang datang dari seseorang yang cukup berpengaruh dalam kehidupan satu tahun terakhir, nyatanya tidak menghentikan niat saya untuk kembali sekolah.

Dalam banyak kesempatan, saya memilih tersenyum untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini. Orang-orang terdekat saya tentu sudah paham jawabannya. Sangat sederhana: saya hanya ingin mewujudkan mimpi masa kecil saya. Tapi tentu jawaban ini tidak cukup untuk menjawab rentetan pertanyaan di atas.

Setiap orang, pasti punya pandangan berbeda mengenai pendidikan, khususnya menempuh pendidikan di luar negeri. Mungkin ada yang seperti saya, ingin mewujudkan salah satu mimpinya—hal yang menurut saya sama sekali tidak salah. Ada yang ingin mengejar kesempatan-kesempatan di luar negeri—yang tidak didapatkan di Indonesia. Ada yang ingin mengejar karir lebih tingi—yang mengharuskan kuliah di luar negeri. Namun ada pula, yang ingin mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya, kesempatan jalan-jalan sebanyak-banyaknya, serta pergaulan sebebas-bebasnya. Menurut saya, tidak ada yang salah. Tapi semoga kita sependapat bahwa pendidikana dalah kunci untuk kehidupan yang lebih baik. Baik dari segi materi, pengetahuan, dan kebijaksanaan dalam hidup. Nampaknya hal ini sangat debatable, kapan-kapan mungkin bisa kita bahas ya J

Sudah lama saya tidak menulis hal panjang dan runut, jadi saya akan menuangkannya pada postingan kali ini. Saya ingin menyampaikan proses mendaftar universitas, persiapan beasiswa, dan juga ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

KULIAH LAGI, Kenapa Engga?
Sejatinya, saya berniat untuk meneruskan kuliah sejak tahun lalu, September 2014. Saya menyampaikan niat ini kepada orangtua. Mereka tidak menolak, tapi menyarankan agar fokus kepada pekerjaan terlebih dahulu (untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman), dan menyarankan kuliah di tanah air. Saran yang awalnya membuat saya sedikit kecewa, karena menurut saya, seharusnya saya diizinkan karena saya sudah dua tahun bekerja (meski baru lulus enam bulan waktu itu). Baru akhir-akhir ini saya menyadari bahwa ini adalah saran yang luar biasa bijaksana dari orangtua saya, sehingga saya mendapatkan pengalaman lebih sebagai jurnalis muda, khususnya saat pemilihan legislative dan pemilu presiden tahun lalu. Dengan menunda kuliah, saya juga tetap bisa menyaksikan family event, yakni pernikahan kakak perempuan saya. Dan bisa mengantar dan menyambut orangtua saya saat mereka melaksanakan ibadah di tanah suci. Tahun 2014 di awali dengan wisuda s-1 saya, hingga ditutup dengan pernikahan kakak. Wajar jika Ayah ingin semua anggota keluarga bisa merasakan kebahagiaan secara bersama-sama—yang meskipun artinya saya harus tetap ada di Indonesia.

Malam pergantian tahun 2015 yang lalu, adalah salah satu malam terbaik bagi saya. Ibu menelpon dan kami berbicara banyak hal. Salah satunya adalah pertanyaan Ayah mengenai rencana perkuliahan yang pernah saya lontarkan. Senang rasanya akhirnya Ayah kembali membuka percakapan tentang hal ini. Saya pun bergegas menyiapkan segalanya.

Saya jelas sudah terlambat untuk mendaftar kuliah untuk intake Februari 2015, juga sudah terlambat untuk mendaftar beasiswa chevening maupun LPDP periode November 2014-Maret 2015. Saya sempat bingung. Sementara persiapan lainnya, seperti tes IELTS—yang notabene nya adalah suatu keharusan untuk mendaftar kuliah dan beasiswa—juga harus dilaksanakan sesegera mungkin. Disisi lain, pekerjaan di kantor juga tidak bisa ditinggalkan. Saya benar-benar harus memanfatkan waktu sebaik mungkin, mengasah time management skill.

Glasgow dan LPDP
Awal tahun 2015 adalah awal tahun yang sibuk, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saya harus mempersiapkan aplikasi pendaftaran ke kampus tujuan, serta menyiapkan berkas pendaftaran beasiswa LPDP untuk deadline April 2015. Semuanya harus saya selesaikan di akhir Februari 2015 karena saya mengikuti Vietnam International Week di Ho Chi Minh City pada selama bulan Maret 2015.

Membulatkan tekad untuk melanjutkan kuliah di luar negeri bukan hanya perkara niat dan keberanian semata. Memilih program studi dan kampus tujuan juga memakan waktu yang tidak sebentar dan cukup membuat galau. Dari hasil sharing yang saya dapatkan dari senior, pilihan kita sebaiknya berangkat dari program studi (departemen) yang ingin kita pelajari, baru memilih kampusnya. Karena peringkat kampus terkadang tidak secara gamblang mencerminkan tiap-tiap program studi. Di sini, kita tentu punya beberapa pilihan. Saya menggunakan prinsip falsifikasi dalam memilih program studi dan kampus. Sederhananya, saya mencoret daftar-daftar kampus dan jurusan yang TIDAK ingin saya tekuni. Saya sempat galau untuk melanjutkan program studi HI, namun karena keinginan mempelajari media lebih besar, saya akhirnya (dengan berat hati) mencoret beberapa piliha program studi HI. Sehingga, pilihan saya mengerucut pada ilmu-ilmu yang memperlajari media. Dari hasil diskusi dengan beberapa senior dikampus, saya kemudian memutuskan bahwa saya akan belajar lebih banyak mengenai menejemen media, yang pada akhirnya mengantarkan saya pada program studi Media Management di University of Glasgow (UoG). Program studi ini adalah yang pertama di UK. Dengan deskripsi mata kuliah yang sesuai dengan yang ingin saya pelajari, akhirnya pilihan itu bulat. Meski demikian, saya juga mendaftar pada program studi New Media and Society di University of Leicester. Aplikasi saya sudah diterima, namun akhirnya saya memutuskan untuk belajar di UoG.

Beberapa pekan setelah kembali ke Indonesia pasca Vietnam International Week, saya mendapat email notifikasi bahwa aplikasi saya di UoG telah diterima dan saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Senang rasanya, karena itu berarti saya dapat menyertakan LoA saya saat mendaftakan diri untuk beasiswa LPDP.

Long story short, saya menjalani tahap demi tahap proses seleksi beasiswa LPDP sembari tetap menjalankan aktifitas di kantor seperti biasa. Live report, liputan luar kota, serta dinas redaksional (editorial staff). Sesekali, saya juga masih menerima tawaran MC off air untuk beberapa event organizer. Terdengarnya mungkin biasa saja, tapi sebagai jurnalis, kadang jadwal tidak menentu, dan itu adalah tantangan tersendiri. Bersyukur karena kantor saya sangat akomodatif, pengajuan izin saya untuk keperluan proses seleksi beasiswa LPDP selalu mendapat kemudahan. Hingga pada akhirnya saya mendapatkan kabar baik dan dinyatakan sebagai LPDP Awardee.

Persiapan ke Glasgow : Preparing A New Journey
Bisa dibilang, persiapan saya cukup ekspres. Sejak pengumuman seleksi akhir, saya masih berada di Sumatra Selatan (Sekayu dan Palembang), untuk menjadi juri di ajang pemilihan Kuyung Kupek MUBA 2015, dan menjadi MC di Festival Sriwijaya 2015. Beberapa hari kemudian, saya baru kembali ke Jakarta untuk menjalankan tugas di kantor seperti biasa. Hingga tawaran untuk menjalankan ibadah umroh seminggu setelah itu. Jadilah saya berkoordinasi perihal kegiatan Pra-Persiapan Keberangkatan (PK) ketika saya di tanah suci. Di waktu yang bersamaan pula, saya mendapat kabar bahwa saya dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima fellowship untuk Cochran Fellowship Program yang diadakan oleh USDA/FAS (saya dikirim mewakili TVRI). Sehingga, saya harus mengurus tanggal pindah PK sebagai syarat untuk berangkat melanjutkan master melalui beasiwa LPDP.

Juni-Juli-Agustus, adalah tiga bulan yang sibuk namun penuh berkah. Saya harus menyelesaikan semua urusan pra-PK sebelum Agustus karena di bulan ini saya akan berada di Amerika Serikat (AS) untuk program fellowship. Pulang dari AS, saya langsung mengikuti PK di Depok selama seminggu hingga akhir bulan Agustus. Sementara saya akan berangkat ke Glasgow pada tanggal 7 September 2015. Jadilah sisa waktu seminggu setelah PK saya manfaatkan dengan menyelesaikan segala urusan administrasi di kantor (mengurus cuti belajar), hingga mengurus pindah kosan, menyiapkan barang-barang yang akan dikirim ke Palembang (maklum saya belum pernah mengirim barang sejak menjadi anak kos di tahun 2010), hingga memilih barang yang akan dibawa ke Glasgow. Tak terkecuali juga menyempatkan bertemu dengan teman-teman sebelum keberangkatan. Kalo diingat, minggu itu adalah minggu yang sangat sibuk. Beruntung ada teman-teman yang bersedia membantu pindahan, packing, hingga mereka yang menyempatkan diri bertemu untuk sekedar memberikan kenang-kenangan.

Move Out and Move On
Move out atau pindahan adalah salah satu kegiatan yang saya hindari. Selain merepotkan dan menghabiskan banyak waktu, kita juga harus mempersiapkan waktu lagi untuk beradaptasi. Tapi ini harus saya lakukan karena saya tidak akan menempati lagi kamar yang saya sewa di Senayan, Jakarta. Sebelumnya, buku-buku dan ‘barang berharga’ lainnya telah saya kirim ke Palembang, sebagian malah sudah ditata dengan rapih di kamar baru saya di rumah Sekayu. Namun ternyata, menjalani kehidupan sebagai anak kost selama lima tahun di Ibukota, membuat barang-barang saya bertambah berkali-kali lipat jumlahnya, dari yang penting sampai ke yang tidak terlalu penting. Saya cukup kerepotan untuk menyortir barang-barang tersebut.

Disaat menyortir barang-barang tersebut, saya sempat tertegun sejenak. Sejatinya, semua barang yang pernah sangat ingin kita miliki, yang rela kita beli dengan menyisihkan uang jajan dan gaji nyatanya tidak ada yang benar-benar penting dalam artian akan kita bawa terus. Kebutuhan kita nyatanya berbeda ditiap waktu, perilaku konsumerisme selama ini hanya akan menimbun barang-barang yang tidak benar-benar kita inginkan. Memang sebagian kita butuhkan, tapi kebanyakan untuk kebutuhan sesaat. Tapi mungkin pula karena kini saya telah mengenakan hijab, sehingga banyak sekali baju-baju yang tidak bisa saya kenakan lagi, hingga jelas tidak bisa dibawa saat pindah.

Pada akhirnya, cukuplah 28 kilo yang saya bawa ke Glasgow, itupun sudah termasuk 5 kilo dalam bentuk makanan mentah (dan instan). Entah kenapa saat itu rasanya saya tidak butuh banyak barang yang ingin saya bawa. Saya mengepak barang-barang sama saat saya akan mengikuti pertukaran pelajar, atau dinas luar kota yang sering saya jalani, hanya saja jumlahnya sedikit lebih banyak. Saya merasa cukup dengan barang-barang tersebut. Nyatanya, selama dua minggu disini, semuanya baik-baik saja.

Urusan move out akhirnya selesai. Perkara sekarang adalah urusan move on. Beranjak dari satu perjalanan ke perjalanan hidup selanjutnya. Tidak mudah meninggalkan zona nyaman yang saya miliki di Indonesia, khususnya di Jakarta. Saya baru saja merintis karir sebagai jurnalis, tapi untuk sementara harus saya tinggalkan. Pilihan untuk melanjutkan studi keluar negeri, meski pada awalnya sangat didukung oleh orang terdekat saya, pada akhirnya juga yang nampaknya memuunculkan kesepakatan tidak tertulis diantara kami, untuk sama-sama move on. Jarak terkadang memang bukan masalah, tapi saat jarak yang ada berwujud prinsip, maka beda lagi urusannya, ya.

Welcome to Glasgow : Embark the New Journey!
Meski belum sepenuhnya move on, pada tanggal yang telah saya tetapkan, saya toh harus berangkat ke Glasgow. Saya memutuskan untuk tinggal bersama landlord (pemilik rumah dan kamar yang kini saya tempati). Pilihan ini saya ambil karena saya ingin berinteraksi dengan british family, mempelajari nilai-nilai kehidupan yang mereka anut. Karena saya yakin, saya tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga harus belajar mengenai kehidupan di Glasgow. Saya merasa beruntung bisa mendapatkan sewa kamar dengan harga yang relative murah dengan neighborhood yang menyenangkan dan fasilitas rumah yang lengkap. Saya benar-benar diberi kesempatan untuk hidup mandiri, terutama belajar masak 😉

Kesempatan baik juga datang dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Glasgow, karena saya dilibatkan sebagai MC di acara Palapa Project 2015 yang juga merupakan program PPI UK. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 19-20 September 2015, sekitar sepuluh hari keberadaan saya di Glasgow. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari kegiatan ini sehingga mengenal banyak senior PPI.

Minggu ini adalah minggu pertama saya kuliah setelah sebelumnya menjalani Fresher Week (Induction atau semacam penjelasan dari program studi). Saya bertemu teman-teman sekelas yang mayoritas adalah Tiongkok, yang tentunya membuat saya senang karena bisa belajar bahasa mandarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<