Welcome to

Maya Susanti

Home / Activities / Mahasiswa: Kuliah sambil Kerja (?)

Mahasiswa: Kuliah sambil Kerja (?)

Kalimat tanya seperti: “Kamu masih kuliah tapi udah kerja?”, “Emang bisa kuliah sambil kerja?” atau “Beneran kamu masih kuliah?” adalah beberapa kalimat yang setahun terakhir sering ditujukan kepadaku.

Jawabanku atas pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya adalah “Bisa.”  Yang kulengkapi dengan senyum. Kadang aku juga bingung harus menjawab pertanyaan seperti ini. Faktanya, aku sekarang berstatus mahasiswa dan juga penyiar di Televisi Republik Indonesia (TVRI). Mungkin bagi sebagian orang, bekerja sambil kuliah adalah hal yang biasa. Banyak orang yang melakukan dua hal ini sekaligus. Tapi sebagian lagi–mereka yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan di atas—masih belum begitu memahaminya. Bagiku, statusku sebagai karyawan dan mahasiswa sewajarnya terdengar normal. Di TVRI khususnya, banyak penyiar yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Kuncinya adalah tanggung jawab pada jadwal siaran, selebihnya silahkan pintar-pintar membagi waktu untuk belajar dan kuliah.

Selain menerima pertanyaan-pertanyaan diatas, aku juga sering diminta untuk menceritakan awal mula aku diterima sebagai penyiar TV, apa saja pekerjaanku dan apakah aku akan tetap bekerja di TV setelah menyelesaikan kuliahku.

Pada pertengahan 2012, tepatnya di akhir bulan Juni, seorang sahabat memberikan informasi rekruitmen TVRI melalui grup BBM. Syaratnya harus lulus s-1. Karena masih mahasiswa, aku pun tak menghiraukan informasi ini. Temanku yang belum mengantongi ijazah sarjana nekat mendaftar. Setelah casting, ia menginformasikan bahwa aku boleh saja mendaftar, masalah diterima atau tidak adalah urusan belakangan. Kalaupun diterima, kita masih bisa menegosiasikan jadwal kuliah dan jadwal siaran nantinya.

Atas dasar ini, aku pun mendaftar. Setelah itu, mendapat panggilan untuk casting. Untuk yang pertama, casting hanya dilakukan untuk membaca naskah (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia). Seminggu setelahnya, aku dikabari lagi via telpon yang mengabarkan bahwa aku lolos ke tahapan selanjutnya dan diminta datang kembali untuk tes wawancara dan pengetahuan umum.

Singkat cerita, aku akhirnya dikabari lagi dan diminta datang kembali ke TVRI untuk membaca kontrak dan menandatanganinya. Seperti yang selalu aku lakukan tiap kali berhadapan dengan hal semacam ini, aku pasti akan langsung menghubungi Ibuku. Kali ini, tanpa di duga, ibuku melarangku untuk menandatangani kontrak. Alasannya, aku harus lebih berkonsentrasi dengan kuliahku. Namun aku tidak berhenti, tekatku sudah bulat, menjadi seorang news presenter adalah salah satu mimpiku. Aku memutuskan menelpon ayah. Setelah menjelaskan perihal kontrak,  Alhamdulillah ayah mengizinkanku untuk bergabung di TVRI, menjadi karyawan kontrak.

Saat ini, aku sudah bekerja selama 1 tahun 4 bulan. Memang belum lama, tapi bagiku setiap mingguku di TVRI adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Pelajaran yang begitu berarti. Pelajaran yang mendewasakan diri bagi seorang mahasiswa yang mencoba dunia kerja.

Bagiku, dunia kerja adalah suatu hal baru yang cukup asing. Meski sebelumnya aku sering terlibat dalam pelbagai kegiatan organisasi yang membuatku mengenal banyak kepribadian, namun dunia kerja ternyata sangat kompleks. Butuh usaha ekstra untuk menyesuaikan diri sampai mampu menikmati pekerjaan yang kita jalani. Mungkin disinilah ide awal mengenai magang berasal. Mahasiswa memang harus disiapkan untuk terjun ke dunia kerja sejak di bangku kuliah.

Hari-hari pertama bekerja, aku selalu bersemangat meski kadang kelelahan. Sejujurnya, aku merasa sangat lelah jika harus bolak-balik Depok-Senayan untuk siaran. Terlebih jarak yang ditempuh adalah 1,5-2 jam untuk sekali perjalanan, padahal siaran tak lebih dari lima menit.  Belum lagi tantangan pulang ke Depok yang bersamaan dengan jam pulang kerja, kereta atau bis dimanapun di kota ini akan sama padatnya. Macet menjadi suatu hal yang sangat biasa bagiku.

Tapi, lewat pekerjaan ini, aku menyadari beberapa hal, bahwa mencari uang itu sebenarnya mudah saja jika kita memang ingin bekerja dan memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Bahwa kita harus tetap menjadi versi terbaik dari diri kita apapun yang terjadi. Karena sesungguhnya apresiasi kadang tidak datang dari atasan atau rekan kerja, tapi dari diri kita sendiri. Oleh karena itulah, atas semangatku dalam bekerja, terkadang aku memanjakan diri sendiri dengan memberikan beberapa hadiah menarik bagi diriku sendiri. Menurutku, penghargaan harus diberikan untuk diri sendiri, dan mungkin inilah yang membuatku selalu merasa bahagia meski tekanan kerja juga tak sedikit.

Di TVRI pula aku menentukan kriteria pekerjaan idamanku. Yaitu yang bisa membuat kita senang, menghasilkan pendapatan dan tentu saja yang membiarkan kita untuk tetap belajar. Tidak berlebihan rasanya jika aku jujur mengakui bahwa aku menemukan semuanya disini, minus drama-drama kecil yang kadang terjadi. Bekerja, seperti halnya belajar, butuh komitmen tinggi. Bukan hanya pada instansi yang mengikat kita, tapi lebih kepada diri sendiri.

Sebagai mahasiswa, kewajiban utamaku tentu adalah belajar. Pada semester pertama bekerja (semester kelima di kampus), aku bisa menjaga nilai akademisku. Bahkan capaiannya adalah capaian tertinggi sejauh ini. Semua karena pembagian waktu yang terorganisir. Semester kedua, aku dihadapkan dengan pilihan lain untuk menjadi lebih sibuk lantaran dipercaya menjadi ketua organisasi ISAFIS, dan menjadi tim liputan untuk program pertamaku, Garis Polisi TVRI. Disini, akumulasi nilai akademisku sedikit menurun meski masih dalam tahap yang sangat wajar. Menghitung apa yang aku dapatkan selama semester ini, aku masih bersyukur semua berakhir baik.

Satu hal yang ingin aku ceritakan disini. Pekerjaan ini membuatku menambah nilai diriku di mata keluarga dan teman-teman. Aku menjadi terampil berbicara di depan umum, mengorganisasi kegiatan, dan yang paling penting, mengorganisasi hidupku sendiri. Kuakui, kegiatanku menuntutku untuk tetap disiplin.

Di balik semua yang aku ceritakan sebelumnya, ada beberapa hal yang sebenarnya menjadi “harga” untuk semua yang kita dapatkan. Ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah kesuksesan. Memiliki pekerjaan yang boleh dikatakan prestisius dan menjadi mahasiswa di kampus ternama di kota ini tentu adalah suatu status yang membanggakan, setidaknya bagi diri sendiri. Tapi akibatnya, waktu berhargaku bersama dengan teman-temanku menjadi sedikit berkurang, waktu tidur dan istirahat pun demikian. Waktu untuk berolahraga apalagi. Semua menjadi berkurang digantikan dengan deretan hal kecil yang harus dilakukan. Tapi bagiku, semua bisa diatasi asal kita telaten dan disiplin. Menyempatkan diri untuk bercerita dengan sahabat terbaik, makan bersama dan mengabari orangtua adalah kegiatan yang tak akan pernah hilang dari daftar kegiatan sehari-hariku.

Intinya adalah, tidak mudah mengatur waktu untuk dapat kuliah sambil bekerja. Sampai saat ini, kadang aku masih tidak percaya terhadap apa yang aku lakukan. Disaat beberapa temanku masih menikmati kehidupan sebagai seorang mahasiswa yang memikirkan tumpukan tugas, aku menambah kepenatan diriku dengan beberapa jadwal yang harus aku kerjakan untuk urusan pekerjaan. Kadang aku bertanya pada diri sendiri ‘apakah aku berjalan terlalu cepat?’. Keraguan dan jawaban atas pertanyaan ini akhirnya terjawab ketika aku merasa lebih lega karena tidak harus bingung mencari tempat magang atau tempat kerja setelah lulus nanti. Setidaknya aku sudah bisa lebih tenang karena telah memiliki pekerjaan. Untuk saat ini, pendapatan yang aku terima lebih dari cukup bagiku. Tapi mungkin akan menjadi tidak cukup saat statusku murni menjadi pekerja. Saat ini, aku masih terbantu dengan subsidi beasiswa yang aku terima. Tapi saat subsidi beasiswa sudah tidak aku dapatkan lagi ketika sudah lulus nanti, aku benar-benar harus lebih semangat dalam mencari tambahan pendapatan. Tentu saja itu bukan tujuan utama. Tujuan utama tentu saja untuk terus belajar dan belajar.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<