Welcome to

Maya Susanti

Home / On Thought / The Beginning of Becoming Minimalist

The Beginning of Becoming Minimalist

 

Setahun terakhir, saya nampaknya terobsesi dengan konsep minimalist. Secara singkat (sesuai yang saya pahami), konsep ini mengajarkan kita untuk hidup secara sederhana dan terorganisir. Konsep ini mengajarkan kita untuk merasa cukup (contentedness) dan menikmati setiap momen dalam hidup. Tujuannya tentu saja agar lebih bahagia dengan hidup yang mindfullness. Ketika kita menjalankan konsep ini, kita diharapkan menjadi orang yang thoughtful dan dapat menikmati hidup dengan damai.

34881397555_7d3c4480be_h

“When you are content to be simply yourself and don’t compare or compete, everybody will respect you.” – Lao Tzu

Konsep ini pertama kali saya kenal dari salah satu penulis favorit saya, Leo Babauta lewat salah satu postingan-nya di Zen Habits. Namun tulisan Leo tentang konsep minimalist juga tertuang disini. Tidak hanya Leo, ada banyak penulis yang menuangkan ide tentang konsep ini, misalnya Joshua Becker lewat blog nya becomingminimalist.com atau Project 333 yang digagas oleh Courtney Carver. Dan tentunya masih banyak lagi tulisan menarik disini. Membaca tulisan-tulisan tersebut cukup menjawab rasa penasaran saya terhadap konsep ini, termasuk bagaimana cara menjadi seorang minimalist. Lebih takjub, ternyata hal ini menjadi perhatian banyak orang di luar sana.

Sejak terobsesi untuk menjadi seorang minimalist, saya mulai kepo dan menggunakan kemampuan riset–yang terbatas, untuk mengetahui lebih banyak tentang konsep ini. Termasuk kepo di youtube dan menemukan banyak video sharing dan tutorial yang sangat bermanfaat. Biasanya saya akan mulai membaca artikel-artikel terkait minimalist dan menonton video-nya saat merasa jenuh akan tugas yang harus dikerjakan di depan komputer. Tanpa saya sadari, setiap selesai membaca ataupun menonton, saya merasa sangat senang seakan merasa recharged. Ketika saya renungkan, ternyata inilah konsep yang selama ini sering saya lakukan ketika di rumah, saya selalu antusias ketika waktu leabran tiba, karena itu artinya saya akan ikut beres-beres rumah dan dapat mengorganisir barang-barang, menyortir hingga mengatur ulang tata letak perabot rumah tangga. Biasanya, kegiatan beres-beres ini juga berakhir dengan memberikan (baca: mewariskan) sebagian barang yang layak pakai kepada adik-adik sepupu dan tetangga. Kadang, barang yang saya wariskan ke mereka adalah barang-barang yang sangat saya sayangi namun nyatanya tidak pernah saya sentuh selama lebih dari enam bulan. Namun, saat saya mewariskan barang-barang tersebut, entah kenapa saya merasa lega, merasa senang dan damai. Mungkin karena barang-barang yang banyak hanya akan menguras pikiran kita. Tanpa kita sadari, dengan memiliki banyak barang, maka pikiran kita akan tersita, kita akan memikirkan cara untuk menjaganya, merawatnya hingga kadang, berpikir untuk menambah jumlah koleksi bentuk atau warnanya. Sebaliknya, saat memiliki barang yang lebih sedikit, pikiran kita akan menjadi lebih leluasa untuk memikirkan hal-hal lain yang lebih penting. Hal ini tentu saja akan sangat bermanfaat untuk menjadikan hidup lebih produktif.

“We don’t need to increase our goods nearly as much as we need to scale down our wants. Not wanting something is as good as possessing it.” – Donald Horban

Nah, seperti yang dikatakan Donald Horban diatas, tahun ini, salah satu hal yang ingin saya capai adalah menjadi minimalist. Sejatinya, hal ini sudah saya coba sejak tahun lalu (September 2016) saat pulang ke Indonesia usai menyelesaikan master di University of Glasgow, UK. Saat itu, saya hanya membawa sedikit barang ketika menempati kamar kost baru. Namun ternyata saya masih jauh dari kata berhasil, karena selalu saja saya menenteng barang belanjaan ketika pulang dari pusat perbelanjaan. Akhirnya, barang-barang di kamar saya menjadi menumpuk. Saat pindahan enam bulan kemudian, barang-barang ini bertambah hingga 3 kali lipat jumlah awalnya. Tentu saja, hal ini cukup merepotkan karena tahun ini, saya akan hidup nomaden paling tidak hingga akhir tahun (karena alasan pindah pekerjaan). Namun, ada beberapa hal yang membuat saya senang. Enam bulan terakhir, saya sudah berhasil mengurangi belanja aksesoris (termasuk sepatu dan tas), hingga mengurangi belanja baju (meski tidak signifikan). Yang masih belum bisa dihindari adalah mengurangi belanja buku. Namun untuk yang satu ini, saya justru akan menambah budget belanja buku karena saya bercita-cita punya perpustakaan mini saat nanti sudah punya rumah bersama dengan keluarga. hehe.

Selanjutya, saya akan menantang diri sendiri untuk benar-benar menjalankan konsep minimalist, setidaknya dengan konsep yang telah di-adjust sesuai dengan kebutuhan saya. Saat ini, saya sedang menyiapkan daftar barang-barang kebutuhan harian yang akan saya gunakan sehari-hari dan berusaha untuk tidak membeli lebih banyak. Saya memberikan waktu selama tiga bulan untuk membuktikan bahwa saya punya komitmen untuk hidup sederhana dan tidak menjadi konsumtif. Wish me luck and see you next three months for the update of this post! 

 

 

One thought on “The Beginning of Becoming Minimalist”
  1. […] been 3 months since I posted about Becoming Minimalist on this blog. I have been working with this simultaneously and trying hard to commit with. In the […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<