Welcome to

Maya Susanti

Home / Personal Story / On Preparing the Big Day

On Preparing the Big Day

Akhir-akhir ini — atau mungkin sejak dulu, entah kenapa pesta pernikahan adalah “sesuatu”. Selain ekspektasi keluarga, sosial media membuat pesta pernikahan terkesan menjadi semakin mahal. Misalnya, jasa make-up artist (MUA) yang berkisar antara 5-10 juta terkesan murah, padahal sesungguhnya semuanya dibayar dengan uang, bukan daun apalagi kertas.

Jika sosial media instagram dan pinterest dengan kata kunci “wedding reception”, calon pengantin terutama wanita seakan menjadi insecure mendadak dan mengabaikan konsep pernikahan murah meriah yang mungkin pernah diinginkan sebelumnya. Akhirnya, muncul banyak justifikasi untuk memilih vendor pernikahan yang diimpikan, dan tentu saja ganjarannya adalah lembaran rupiah yang lebih tebal, lebih mahal. Kesimpulan prematur saya, pernikahan sederhana yang tampak di medsos lewat foto-foto nan artistik adalah sebuah konsep, tidak ada kaitannya dengan jumlah uang yang akan dikeluarkan. Dalam hal ini, sederhana tidak berarti on budget. Pernikahan sederhana tersebut ternyata mewajibkan calon pengantin merogoh kocek dalam-dalam. Itulah sebabnya, saya merasa tulisan ini lebih baik menceritakan tentang persiapan pernikahan yang minimalis, bukan semata konsep sederhana tapi juga tidak mahal-mahal amat tapi tetap mengandung unsur adat dan budaya–akar kita sebagai bangsa Indonesia. Namun, minimalis juga tidak berarti tanpa persiapan, minimalis disini berarti memberikan prioritas terhadap hal-hal yang dirasa penting tanpa mengabaikan esensi pernikahan itu sendiri.

***

(Ket: foto majang-majang, H-1. Credit: @radograph)

 

Sejak sepakat untuk menikah pada 7 Oktober 2017, saya dan Ramdhan punya waktu paling tidak sekitar 5 bulan untuk menyiapkan pernikahan kami. Waktu persiapan yang inshaAllah cukup disela-sela kesibukan masing-masing ditempat kerja. Beruntung, saya sedang dalam masa training di kantor baru, sehingga workload tidak sebanyak di kantor lama. Namun Ramdhan nampaknya sangat kewalahan dengan pekerjaan di kantornya. Jadilah setiap weekend ada saja yang kami kerjakan terkait persiapan pernikahan. Mulai dari diskusi, memilih vendor, hingga koordinasi dengan keluarga. Maklum, pesta pernikahan kami akan diadakan di Sekayu — kota kelahiran saya di Sumatra Selatan. Sementara kami berdua sedang berdomisili di Jakarta.

Jadi, postingan ini hanya bertujuan untuk menceritakan pengalaman dalam mempersiapkan pernikahan. Ada beberapa hal yang menurut kami menjadi penting untuk diperhatikan dalam mempersiapkan pernikahan. Disclaimer: pernikahan yang kami siapkan mungkin bukanlah pernikahan yang super minimalist, karena kami mengundang 1000++ tamu, tetap menggunakan WO untuk hari H. Namun poin-poin dibawah ini akan memuat penjelasan tambahan yang setidaknya bisa menghemat banyak.

  1. Kesepakatan 2 Keluarga

Pernikahan kami adalah penyatuan dua budaya yang sangat berbeda. Budaya Sekayu-Palembang dan Budaya Sunda-Jogja. Sehingga butuh banyak pemahaman antar dua belah pihak. Kesibukan masing-masing keluarga juga membuat kami harus banyak-banyak maklum. Akhirnya, keluarga menemukan waktu untuk bersilaturahmi di Palembang. Saling berkenalan. Hasil dari pertemuan, tanggal pernikahan akan ditentukan kemudian dan keluarga sepakat untuk tidak mengadakan acara pertunangan dengan alasan efektivitas. Beruntungnya, semua setuju. Adat seserahan yang harusnya diberikan CPP ke CPW pada prosesi pertunangan, disepakati untuk diberikan saat hari H, sebelum akad nikah. Untuk hal ini, bayangkan berapa yang bisa dihemat, apalagi untuk dua keluarga yang tinggal berbeda pulau. Tapi jika tunangan menjadi sangat penting bagi kalian, maka laksanakan, tapi usahakan tetap minimalis dan beresensi.

 

2. Konsep Pernikahan

Sejatinya, pernikahan sesuai adat dan budaya di Indonesia, jarang ada yang dilaksanakan sehari saja. Di Sekayu, paling tidak harus 2 hari. Satu hari untuk akad dilanjutkan dengan majang-majang (semacam ajang silaturahmi CPP dan CPW dengan keluarga besar di rumah CPW), satu hari selanjutnya untuk resepsi. Karena Ibu saya menyarankan untuk tetap ada acara majang-majang (karena khas Sekayu), maka diputuskan akad dan resepsi dilaksanakan di hari yang sama. Sehingga akan memudahkan keluarga Ramdhan nantinya. Intinya, semua harus dikondisikan agar nyaman untuk keluarga. Mengadakan akad dan resepsi dalam satu hari juga akan menghemat anggaran, khususnya untuk catering dan MUA. Karena harga untuk 2 hari pastinya akan berbeda.

 

3. Prewedding, haruskah?

Setelah silaturahmi keluarga dan mendapatkan tanggal pernikahan yang disepakati. Kami langsung mempersiapkan pernikahan. Karena tidak ada tunangan, jadi kami bebas dari pusingnya persiapan tunangan. Kami juga memutuskan untuk tidak melakukan sesi foto prewedding dengan alasan efisiensi. Beruntung, Ramdhan selalu mengabadikan momen kebersamaan kami, sehingga kami punya banyak stok foto yang nanti bisa dicetak untuk keperluan dekorasi hari H. Dalam fase “prewedding”, kami fokus untuk mencari tempat (kost-an) untuk nantinya ditempati setelah menikah. Kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama mengenal satu sama lain. Menyenangkan rasanya bisa terbebas dari hal-hal teknis seperti baju, make-up dan lokasi foto.

 

4. Seserahan

Hal yang tak kalah penting untuk disiapkan tentunya adalah seserahan (hantaran, dalam bahasa Sekayu). Seserahan dalam budaya Sekayu mewajibkan CPP dan keluarganya untuk membawa perlengkapan CPW dan kue-kue adat. Totalnya bisa mencapai 15 tray untuk kue dan makanan adat, sementara untuk keperluan CPW disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan. Karenanya, saya meminta Ramdhan untuk membeli hal yang esensial dan memang “disyaratkan” untuk seserahan perlengkapannya. Yang terpenting harus ada songket karena saya berasal dari SUMSEL.

 

5. Memilih vendor

Ada banyak hal yang harus diperhatikan saat memilih vendor. Namun paling tidak kita harus punya priority list. Kami sepakat bahwa hal yang harus diperhatikan adalah catering, venue+decor, dan dokumentasi. Jangan lupa bahwa semuanya harus on the list. Harus sesuai dengan budget yang dianggarkan. Saat kita sudah mulai punya justifikasi untuk menggunakan jasa vendor yang fantastis, ingatlah bahwa esensi pernikahan adalah untuk memberitahu kerabat bahwa kita sudah resmi menjadi suami-istri sekaligus mohon doa dari mereka agar pernikahan kita dipenuhi berkah. Sekitar 1 bulan menjelang hari H, saya sempat stress dan memikirkan banyak hal, bagaimana kalau pernikahan kami tidak sesuai dengan yang diharapkan keluarga besar dan tamu, namun pikiran itu saya tepis dengan menyakinkan diri bahwa hal-hal seperti mengurus rumah tangga nantinya adalah hal yang jauh lebih penting dan butuh lebih banyak biaya. Jadi lebih baik anggaran yang ada disimpan. Prinsipnya, semakin sedikit menggunakan uang orangtua, semakin baik.

 

6. Urusan KUA

Yang terpenting dari semuanya adalah urusan KUA. Jangan sampai hal ini terlewatkan lantaran sibuknya mengurus ini-itu. Apalagi untuk calon pengantin yang menikah di tempat yang berbeda dengan domisili, maka harus mengurus surat-menyurat dari jauh-jauh hari. Jangan lupa juga foto untuk buku nikah sesuai dengan peraturan/petunjuk yang ada.

 

Dari enam hal yang harus diperhatikan diatas, jangan lupa harus tetap menjaga kesehatan. Seminggu sebelum hari H, saya terkena alergi yang berujung kaligata dengan bercak merah seluruh tubuh, sangat menyedihkan. Ditambah lagi stress ini-itu. Jadi, sangat penting untuk selalu menjaga kesehatan ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<