Welcome to

Maya Susanti

Home / On Thought / Persiapan Lanjut Kuliah Beasiswa LPDP

Persiapan Lanjut Kuliah Beasiswa LPDP

Beberapa waktu lalu, saya diminta untuk sharing tentang persiapan kuliah dengan beasiswa LPDP. Seminggu setelah itu, saya ditanya beberapa teman tentang hal yang sama. Setelah saya pikir, mungkin lebih baik saya tulis ulang disini. Tujuannya, kalo ada yang nanya bisa langsung mampir kemari. Oh iya, ini persiapan teknis, untuk persiapan lainnya pernah saya tulis disini. Monggo dibaca juga ya, karena keduanya sama pentingnya.

 

Kenapa LPDP?

Sebelum mulai proses apply LPDP, saya membuat list beberapa beasiswa yg saya incar. Diantaranya: AAS, Fullbright, Kominfo, LPDP. Akhirnya coret Fullbright karena info dari senior, dananya terbatas, sering pas2an untuk kampus favorit (CMMIW). Coret AAS karena ternyata prosesnya lama (ada pelatihan dulu sblm berangkat, dll) yang tidak bisa saya jalani karena alasan kerja (iya, kalo terpilih). Akhirnya fokus ke LPDP dan Kominfo. Dua beasiswa ini range waktu pendaftarannya sama, jadi bisa sekalian persiapan berkas. Tapi setelah kepo, ternyata beasiswa kominfo harus nunggu sekitar setahun untuk diberangkatkan, sementara saya ingin secepatnya berangkat sekolah (udah bosen kerja—tidak untuk ditiru ya), jadilah semakin fokus ke LPDP karena waktu itu LPDP bisa berangkat cepat. Saya daftar periode April, Juni pengumuman, Agustus akhir berangkat (2015).

Kampus Dulu / Beasiswa Dulu?

Ini pertanyaan yang paling sering saya terima setiap kali ada teman yang berniat untuk lanjut kuliah. Sebenarnya bebas yang mana dulu. Tapi khusus LPDP, saya menyarankan baiknya apply kampus dulu. Jadi waktu apply LPDP, udah bisa isi kolom “kampus tujuan” sekaligus upload LoA (Letter of Acceptance). Dan, waktu wawancara bisa dengan PD bilang kalo udah ada LoA. Karena dulu saya ditanya, trus Alhamdulillah bisa bilang kalo udah punya LoA unconditional. Meski mungkin ga terlalu berpengaruh, tapi saya yakin (sok iye) kalo keputusan pewawancara jg dipengaruhi oleh LoA tsb. Minusnya, nanti ga boleh ganti kampus kecuali nunggu tahun depan dan ranking kampus baru nya diatas kampus yg kita pilih sebelumnya (kalo ga salah ini peraturan baru). Kemaren saya daftar di dua kampus yang masuk dalam daftar LPDP maupun kominfo, jadi LoA nya bisa saya gunakan untuk apply keduanya (karena kominfo memprioritaskan yg sudah punya LoA—seingat saya).

Tapi ga ada salahnya jg kalo dpt beasiswa dulu, jadi punya waktu lebih panjang untuk menentukan kampus pilihan, menyelesaikan urusan kantor karena lagi senang2nya kerja (atau memastikan naik jabatan sblm berangkat misalnya) Tergantung prioritas kita.

Tips/Trick Admissions ke Kampus

Sebelum ke tahap ini, yang jelas kita harus menentukan dulu mau ke kampus mana, paling ga bikin 2-3 pilihan (jangan banyak-banyak juga nanti bingung sendiri, hehe). Kepoin syaratnya apa aja, khususnya IELTS/TOEFL-nya. Jangan takut daftar hanya karna skor IELTS kurang 0,5 point misalnya, karena bisa aja dapat LoA meski conditional, atau di kasus temen saya, bisa mengajukan email personal ke Profesor untuk dapat LoA unconditional. Tapi ada juga teman yang nekat daftar meski kurang 0,5 point dan lulus-lus-lus. Jadi intinya nilai IELTS jangan terlalu dijadikan beban.

Biasanya, pilihan kampus jadi semakin banyak begitu kita udah daftar (kok ga daftar kesini ya? inilah-itulah). Trus udah dapet 1 kampus kadang jadi jumawa mau ke kampus yg namanya lebih beken, karena PD. Yang terpenting, kampusnya masuk list LPDP. Trus, yg terpenting jurusannya, baru kampusnya, karena ada kampus yangg oke, tapi jurusan yg kita mau ternyata ga terkenal. Tp kalo mau ambil MBA, saya sarankan di kampus yg memang tersohor, karena pasti beda experience-nya, dan (mungkin) IMO lebih baik di US daripada di UK (programnya setahun). Kecuali mau cepet lulus, UK is your choice then.

Untuk personal statement (biasanya 500 kata), bikin yg personal dan “menyentuh”, jangan lupa humble brag–bragging but in a humble way.LOL. Intinya jualan tapi jangan yang muluk-muluk. Personal experience lebh dihargai daripada cerita yg umum-umum. mungkin kurang menyentuh bagi mereka. Kemarin pas apply, saya cerita pengalaman sebagai jurnalis yang membuat saya yakin mau kuliah s2 dibidang yangg ga jauh2 dari komunikasi. hehe. Alhamdulillah jualannya laku.

Sama halnya dengan rekomendasi, sebaiknya ditulis oleh orang yang mengenal kita secara personal meski biasanya diharuskan rekomendasi dari 1 akademisi (dari kampus s1) dan dari 1 dari kantor (atasan langsung). Saya dpt rekomendasi dari Produser, Manager, dan Pembimbing Skripsi. Setelah dibaca lagi, isinya memang rada personal seolah-olah dia kenal kita ga cuma di lingkungan akademisi dan kerja. Ini jadi good point karena tentunya kampus pengen dapat calon mahasiswa yang kemampuan akademis dan sosialnya seimbang (sok tau bet dah—maafkeun ke-sotoy-an ini).

Tips/Trick Apply Beasiswa

Untuk rekomendasi, mirip-mirip seperti point di atas, tapi kalo LPDP, ada yg bilang cukup memperhitungkan asal/siapa yang menulis rekomendasi. Tapi hal ini tergolong syarat administratif nampaknya. Rekomendasi saya dari manager tapi Alhamdulillah dapat beasiswanya, ada teman yg rekomendasi dari Pak JK juga dpt, tapi ada juga yang dpt rekomendasi dari tokoh nasional hanya sayang belum rezekinya sehingga gagal mendapatkan beasiswa, jadi sepertinya bukan faktor utama.

LPDP memprioritaskan “anak bangsa” yangg kayaknya ga neko-neko, cinta tanah air, nasionalisme-nya tinggi, dan ingin membangun negeri. Meski normatif, ini syaratnya kalo saya simpulkan. Karena indikatornya beda-beda euy, semacam ndak ada exact kualifikasi harus seperti apa kandidatnya (selain yg ada di persyaratan—ini sih mutlak ya).

Wawancara di LPDP adalah faktor yg sangat menentukan, IELTS pas-pas-an, esay pas, IPK pas ga masalah kalo wawancara lancar-luncur, pewawancara merasa yakin. Plus, kalo rezeki, ga kemana inshaAllah. Tapi jujur saya sempet latihan wawancara dengan 3 org yangg berbeda sebelum wawancara betulan, dengan alumni LPDP, dengan senior saya (dengan perspektif “nasionalisme”), dan dengan produser saya dikantor (PhD student). Jadi punya banyak insight. Most of all, harus tenang dan meyakinkan. InsyaAllah aman.

Do’s and Dont’s During the Process

Paling penting untuk sabar dan fokus. Ga ada proses beasiswa yang hanya 2-3 bulan. Bahkan, menurut saya, 6 bulan waktu yang cukup mepet. Rata-rata teman-teman saya menyiapkan 1 tahun untuk apply kampus dan beasiswa. Kalo mau diringkas, ini kira-kira timeline saya:

Jan – memutuskan untuk sekolah lagi, langsung riset kampus dan beasiswa, siapin berkas/terjemahin (ijazah/transkrip, KK, dll), bikin akun di LPDP.

Feb   approach dosen dan atasan dikantor untuk rekomendasi. IELTS (ini mepet bgt —tidak untuk ditiru — karena baru sadar IELTS lama udah kurang dr 6 bulan), akhir April apply ke kampus.

Mar – nyicil lengkapi berkas, upload di akun LPDP.

April – dpt LoA, upload, submit aplikasi.

Mei – Proses seleksi (administrasi, wawancara)

Juni – pengumuman LPDP

Juli – bikin visa, tes TB (UK requirement—sekarang harus tes kesehatan lebih awal sebelum daftar)

Agustus – PK LPDP, berangkat.

Sep— mulai kuliah

Itulah tadi persiapan teknis yang saya lakukan untuk lanjut kuliah pada tahun 2015 lalu. Semoga tulisan ini bisa membantu ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<