Welcome to

Maya Susanti

Home / Personal Story / Newly Wed in Jakarta, Tinggal Dimana?

Newly Wed in Jakarta, Tinggal Dimana?

Sebagai anak rantau yang mencari nafkah di ibukota (ceilah), saya rasa tulisan ini cukup penting dibagi. Karena, kadang saya dengan sengaja browsing ini-itu (tekait kehidupan di Jakarta), just to know if someone also experience the same thing as me. Karena, entah kenapa, memiliki “teman” untuk pengalaman yang mirip-mirip bisa membuat hati menjadi tenang.

Kali ini kita bahas tentang tempat tinggal sebagai newly wed di Jakarta ya, khusus untuk anak rantau atau yang rumah orangtuanya jauh dari tempat kerja — sehingga mau tidak mau harus mencari alternatif tempat tinggal baru untuk berdua.

Setelah menikah, saya dan Ramdhan memutuskan untuk tinggal bersama di kos-kosan yang saya sewa sebelum kami menikah. Beruntung, kosan ini memperbolehkan 2 orang untuk sewa satu kamar. Lokasinya di Patal Senayan, sangat strategis dan dilengkapi fasilitas yang memadai. Harganya memang tergolong sedikit lebih mahal dibanding sewa apartemen unit studio ataupun kontrakan, tapi dengan pelbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk menempati kosan ini sambil mencari-cari tempat tinggal alternatif.

Memilih kosan sebagai tempat tinggal pertama setelah menikah tentu ada plus-minusnya.

Plus:

  1. Kita tidak perlu repot-repot memikirkan “isi rumah” seperti furniture, peralatan dapur, mesin cuci, kulkas, dan lainnya. Karena semua fasilitas ini akan kita dapatkan ketika kita memutuskan untuk ngekos — tentunya untuk kategori kosan eksekutif di Jakarta — Senayan, Kuningan, Setiabudi, kawasan SCBD (biasanya harga mulai dari 2jutaan untuk 1 orang, dan 4 jutaan untuk dua orang). Well, harganya memang lumayan ya, tapi jika harga ini sudah termasuk listrik dan air (air hangat), laundry (atau paling tidak mesin cuci), TV kabel+internet), cleaning service dan parkir, percayalah harga segini termasuk standar untuk kawasan-kawasan perkantoran.
  2. Dengan lokasi yang strategis, kami tidak khawatir terkena macet berjam-jam di jalan ketika pulang-pergi ke kantor. Kantor saya berlokasi di Gatsu sementara Ramdhan di Cilandak. Jadi, Patal Senayan cukup ideal bagi kami, terlebih dengan kenyamanan kawasan Senayan. Dengan ngekos, paling tidak, kita tidak harus bangun sebelum subuh hanya untuk berangkat ke kantor. Saving time on the road means more quality life here in Jakarta. Jadi, harga yang dibayar, sebenernya sudah termasuk harga untuk tidak bermacet-macetan terlalu lama di jalan. Meskipun akhir-akhir ini Senayan cukup macet untuk persiapan ASIAN Games.
  3. Kosan eksekutif juga berarti bahwa lingkungannya akan mirip-mirip dengan kondisi kita– kaum millenials kelas menegah (bonus lingkungan yang relatif bersih). Di daerah kosan seperti ini, kita tidak akan menemukan ibu-ibu berkumpul sambil “arisan” di depan rumah, tapi akan ada penghuni lain yang masih bisa diajak berinteraksi. Jadi sangat cocok bagi kita yang tetap ingin mengenal penghuni sebelah tanpa harus repot berbasa-basi dengan tetangga rumah kiri-kanan-depan-belakang.

Minus:

  1. Dengan luas kamar terbatas (biasanya 4 x 5 m — dulu kosan kami 7 x 4 meter) kita tentu tidak bisa membeli banyak barang. Selain karna akan bikin ruangan sumpek, kita juga akan kerepotan saat pindah nanti. Jadi, untuk pasangan muda, kita tidak mengenal istilah “nyicil furniture”. Ada yang beranggapan bahwa urusan cicil-menyicil harus dimulai sedini mungkin, tapi untuk kita yang ngekos, sebainya alokasi dananya bisa ditabung saja. Bukan berarti sama sekali tidak memikirkannya ya!
  2. Tidak bisa menerima tamu (terlalu lama) atau mengajak saudara menginap. Biasanya pasti akan ada ruang komunal yang bisa digunakan sebagai ruang tamu, tapi daripada merasa ga enak dengan penghuni lainnya karna tamu kita kelamaan, kami jadinya sangat jarang mengundang teman atau saudara. Juga karena nanti bingung mereka mau tidur dimana kalo menginap. hehe.
  3. Meskipun ini tidak bisa di-generalisasi, tapi kelamaan tinggal dikosan dengan fasilitas lengkap akan membuat kita menjadi kurang mandiri. Karena semuanya sudah dirurus. Mulai dari listrik, air, galon dan beres-beres kamar. Meski enak jadi terima beres. hehe. Tapi tenang, kemandirian dikosan bisa diasah karena masih memungkinkan kita untuk belajar masak di dapur umum (tentu bukan makanan dengan bau menyengat ya!).

Meskipun nyaman dengan lokasi dan fasilitas (ditambah penjaga kosan yang sangat baik), kami akhirnya harus memutuskan untuk pindah dari kosan di Patal Senayan karena kami tentu butuh tempat yang lebih luas jika nanti bayi kami lahir. Selain itu, ada pula pertimbangan lain, misalnya menyediakan tempat untuk saudara jika nanti ada yang datang berkunjung.

Setelah pencarian dan pertimbangan selama kurang lebih sebulan, kami akhirnya memutuskan untuk menyewa unit apartemen dengan 2 kamar tidur (2BR) di Pakubuwono Terrace Cipulir. Keputusan ini kami ambil dengan beberapa pertimbangan. Diantaranya: kami menyukai lingkungannya yang tidak begitu crowded, lokasinya memang sedikit macet, tapi masih bearable dengan akses ke tol dan transportasi umum yang memadai. Fasilitasnya lengkap (termasuk taman, kolam renang dan inconvenience store). Tapi tetap, ada plus-minusnya.

Plus:

  1. Full-furnished. Unit yang disewakan rata-rata sudah dilengkapi dengan beragam perlengkapan, mulai dari tempat tidur, sofa, TV, lemari, kulkas, dispenser, peralatan dapur dan memasak, bahkan hingga mesin cuci (tidak untuk unit kami). Semuanya sudah sesuai kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini, sesuai kebutuhan kami dengan dua kamar tidur (2BR). Memang tidak terlalu luas tapi jelas masih cukup untuk kami pasangan muda yang menanti kelahiran buah hati. Kami juga tidak perlu membeli “isi rumah” karena sudah lengkap dan yakin kalopun membeli, belum tentu nanti akan cocok dengan konsep dan gaya di rumah yang nantinya akan kami bangun sendiri. Selain itu, khusus untuk barang-barang elektronik, semakin lama akan semakin usang dan muncul inovasi baru, jadi kami memilih menggunakan yang sudah ada.
  2. Tinggal di apartemen artinya mendapatkan fasilitas yang relatif lengkap. Kolam renang, inconvenience store, laundry, kedai makan, hingga service lainnya. Sebelumnya, kami memastikan lokasi yang kami pilih masih reachable dan bearable untuk urusan traffic. Sehingga masih nyaman dan mudah ketika berpergian. Meski harus berangkat sedikit lebih pagi dibanding waktu masih ngekos, paling tidak sekarang tidak kena peraturan ganjil-genap. Jadi bisa diantar jemput.
  3. Tinggal di apartemen juga berarti latihan hidup mandiri, karena benar-benar hidup berdua, dengan keluarga kecil. Dulu, saat masih dikosan, masih ada penjaga yang dapat membantu kami saat ada beberapa kendala, tapi sekarang semua harus dilakukan berdua, jadi semacam berbagi tugas. Harus pintar-pintar mengatur waktu dan membagi tugas.

Minus:

  1. Ada biaya tambahan lainnya. Waktu ngekos, uang bayaran bulanan yang kami keluarkan adalah untuk semua kebutuhan, termasuk listrik, air, internet dan parkir, kini kami harus mengeluarkan dana untuk listrik, air , gas, dan laundry (bisa mencapai 1 juta per bulan). Kami jiuga memutuskan tidak menggunakan layanan internet dan TV berbayar dan menggantinya dengan membeli paket yang lebih besar untuk kuota internet. Beruntung, biaya maintanance per bulan dan parkir yang harus kami keluarkan sama dengan harga sewa di kosan lama. Tambahan biaya yang kami keluarkan kami anggap sebagai ganti mendapatkan tempat yang lebih luas sesuai kebutuhan kami.
  2. Karena tinggal di apartemen, kami tidak bisa mencuci baju sendiri (kecuali underwear) karena tidak ada tempat untuk menjemur, juga tidak diperbolehkan sebenarnya. Bagi kami, ini bukan masalah besar, kecuali nanti saat sudah tidak sanggup mencuci pakaian bayi. Alternatifnya, kami akan membeli mesin cuci lengkap dengan pengeringnya! hehe.

Demikian cerita untuk pilihan tempat tinggal sebagai newly wed di Jakarta yang belum punya rumah sendiri —  sambil nyicil karena harganya sudah dipastikan ga bisa dibeli dengan hasil tabungan bekerja selama beberapa tahun terakhir. Haha! Hidup di Jakarta memang mahal, tapi kami berdua punya pekerjaan disini dan berencana meniti karir di kota ini (setidaknya dalam beberapa tahun kedepan). So, here comes the deal!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<