Welcome to

Maya Susanti

Home / On Thought / LIFE IN and AFTER HI

LIFE IN and AFTER HI

 

      Hari ini, 8 Mei 2014, tiga bulan setelah wisuda sarjanaku (8 Februari 2014).

Sebenarnya, telah lama aku niatkan untuk menulis tentang LIFE AFTER HI, sebuah kehidupan baru pasca kuliah, tapi ada banyak hal lain yang harus dikerjakan sehingga membuat tulisan ini tertunda. Bahkan, draftnya ditulis sebulan setelah wisuda. Tapi, setelah tiga bulan pasca wisuda, semoga ada lebih banyak cerita yang bisa dibaca.

Rasanya waktu berjalan begitu cepat, tiga setengah tahun menikmati masa kuliah ibarat sekelibat saja. Aku masih ingat betul bagaimana bahagianya aku saat mendapatkan pengumuman (via internet) bahwa aku diterima di jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia. Kebahagiaanku menjadi berkali lipat saat mengetahui bahwa aku juga mendapatkan beasiswa penuh selama masa kuliah. Bukan hanya terbebas dari biaya pendidikan yang mahal, akupun mendapatkan tambahan biaya setiap bulannya. Semuanya aku dapatkan melalui program beasiswa Kerjasama dan Industri (KSDI) Pemkab Musi Banyuasin dan Pemprop Sumatera Selatan.

Agar tulisan ini dapat dibaca runut, maka akan dibagi dalam beberapa bagian. Paling tidak memberikan beberapa gambaran mengenai kehidupanku semasa kuliah.

 

Masa kuliah

Tujuh semester di HI adalah waktu yang luar biasa dan tak kan pernah terlupakan. Semester pertama aku habiskan bersama teman-teman baru di HI UI 2010. Maklum, masa orientasi di program ini, hampir satu semester lamanya. Mulai dari hunting (wawancara senior), latihan drama untuk potluck, salam kelompok, salam angkatan, hingga hari “pelantikan” menjadi keluarga Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HMHI). Semuanya menyisakan cerita yang dipastikan tidak akan ada ujungnya jika diceritakan kembali. Semester dua, aku mulai mengikuti beberapa kepanitiaan. Di semester ini pula, aku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan karena mendapatkan kesempatan untuk menjadi anggota ISAFIS (Indonesian Student Association for International Studies), dan langsung mendapatkan amanah sebagai under secretary general. Di pertengahan semester ini, aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti International Week Holland, sebuah program pertukaran pelajar selama sepuluh hari di Belanda. Pengalaman pertama keluar negeri, dan tentunya pengalaman yang begitu menyenangkan.

Semester ketiga dan keempat adalah tahun organisasi bagiku. Di semester ini, aku mulai mendapatkan kepercayaan untuk menjadi sekretaris di beberapa kegiatan dan organisasi kampus. Bahkan, di semester empat, aku dipercaya untuk menjadi Secretary General Jakarta Model United Nations (JMUN) 2012—semcam ketua pelaksana– yang diselenggarakan oleh ISAFIS. Sebuah tantangan yang luar biasa untuk dapat bekerjasama dengan panitia lainnya. Alhamdulillah, acara ini berjalan dengan lancar dan sukses hingga menghasilkan nilai surplus yang cukup fantastis.  Di tahun ini, aku benar-benar mengaktualisasikan diri dalam kegiatan berorganisasi. Aku mencoba apapun yang aku inginkan, termasuk mengikuti salah satu kontes beauty pageants yang selanjutnya membawaku ke dunia baru, dunia kerja. Tak terlupakan tentunya, diakhir semester ini, aku juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi delegasi pemuda Indonesia di sidang PBB mengenai perubahan iklim, UNFCCC COP 17 di Durban, Afrika Selatan.

Semester lima tepatnya, saat aku dinyatakan dapat bergabung dengan stasiun televisi pelat merah, TVRI, merupakan masa yang cukup berat. Meski ini adalah puncak semester bagi anak HI, agaknya aku cukup beruntung masih bisa menjalankan semuanya dengan imbang, membagi waktu antara kuliah, kerja, kegiatan berorganisasi, pertemanan dan istirahat. Apalagi di semester enam, saat program Garis Polisi TVRI (program yang menjadikanku sebagai host-nya) sedang giat-giatnya berproduksi, sementara di sisi lain tuntutan sebagai presiden ISAFIS juga tidaklah ringan, aku merasa sedikit keteteran dengan kuliah. Untungnya, hasil akhir tetap memuaskan, bahkan menjadi salah satu semester dengan Indeks Prestasi (IP) terbaik. Meskipun, ada side stories yang cukup menyedihkan, yakni saat aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kontes World Miss University di Korea Selatan. Keinginan untuk mewakili Indonesia di ajang beauty pageants harus disimpan dulu lantaran tidak mendapatkan izin orangtua. Bagiku, izin orangtua adalah restu dan ridhoNya. Jadi, aku pikir mungkin ini hanya rezeki yang numpang lewat.

Semester tujuh adalah masa transisi. Aku masih tetap sibuk dengan segala aktifitas yang aku lakukan di semester enam, dan ditambah dengan keinginan untuk menuntaskan studi disemester ini, membuatku cukup gelagapan mengatur waktu. Untungnya, tim Garis Polisi TVRI dan kru pemberitaan mengerti. Mereka justru mendukungku menyelesaikan studi secepatnya. Teman-teman di ISAFIS juga memberikan dukungan yang luar biasa. Hingga akhirnya, aku mendapatkan gelar S-1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude.

           

Proses Pengerjaan Tugas Karya Akhir (TKA)

Mungkin beberapa dari kita masih memusingkan apa bedanya Skripsi, Tugas Akhir (TA) dan TKA. Pada dasarnya, semua adalah prasyarat untuk menjadi sarjana. Proses dan persyaratannya tentu berbeda. Aku pun memutuskan untuk mengambil TKA karena memungkinkanku menulis topik yang menarik perhatianku, dan tentu saja membuka peluang lebih besar untuk menyelesaikannya dalam satu semester melalui program percepatan. Semuanya tergantung kita apakah ingin menyelesaikan sarjana dengan skripsi atau TKA, atau juga hanya menyelesaikan tuntas 144 SKS. Bagiku sendiri, pilihan ini tepat karena aku bukan tipe mahasiswa yang rajin mencari data dan menuliskannya. Aku lebih suka membaca, mengelompokkan data dan mengidentifikasinya. Sehingga, TKA atau literatur review dalam bentuk yang sedikit lebih kompleks, adalah pilihanku. Namun yang ingin ku tekankan disini adalah proses penulisannya. Seperti cerita mahasiswa lainnya, butuh banyak tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan TKA. Disinilah  kita diuji untuk dapat berkomunikasi dengan baik dengan dosen pembimbing, juga diuji sejauh mana kita dapat disiplin dengan waktu dan konsistensi pengerjaan.

Ada beberapa drama yang terjadi, mulai dari sulitnya mengumpulkan niat untuk mulai menulis, hingga dosen pembimbing yang lebih menyarankan untuk lulus semester berikutnya agar hasil tulisan jauh lebih komprehensif. Semuanya adalah bumbu-bumbu kuliah bagi mahasiswa semester akhir. Siapapun mahasiswanya, jika mengambil skripsi atau TA dan TKA pasti akan mengalami masa ini. Drama yang dialami mungkin akan berbeda, tapi nampaknya tidak akan jauh dari topik tulisan dan dosen pembimbing. Aku sendiri merasa bersyukur karena memiliki teman-teman yang mendukung dan selalu memberi semangat. Rasanya semangat datang dari segala arah, keluarga, teman-teman kuliah, teman-teman kosan, teman-teman organisasi, teman-teman kantor hingga teman-teman yang pernah mengikuti kontes-kontes. Yang terpenting dari segalanya, tentu saja niat. Kuatkan niat, maka semuanya inshaAllah berjalan dengan lancar.

 

Masa Transisi: The Galau Time

Mungkin ada yang kurang begitu setuju jika tahun terakhir sebenarnya adalah ujian maha penting bagi seorang mahasiswa. Bukan hanya diuji untuk menyelesaikan tugas akhir, masa ini adalah masa dimana kita benar-benar diuji untuk tetap memiliki kestabilan emosi. Perasaan sensitif kadang mudah sekali menerpa saat seseorang menanyakan mengenai skripsi. Pun jika sudah selesai, rentetan pertanyaan lain seperti: “Mau kemana setelah ini?”, “Lanjut s-2 dimana?”, “udah dapat kerja?”. Khusus untukku yang sudah bekerja dan memang berencana melanjutkan pendidikan, maka pertanyaannya menjadi lebih spesifik, seperti:  “Kapan pindah dari TVRI?”,  “Ga berniat pindah ke TV lain?”, “Udah daftar s-2 dimana aja?” atau bahkan “Ga berniat kuliah sambil kerja, lagi?”.

Pertanyaan-pertanyaan diatas kadang terdengar begitu mengganggu. Tapi kadang harus dianggap sebagai angin lalu saja. Karena pada dasarnya kitalah yang menjalani kehidupan kita, oranglain hanya melihat luarnya saja. Tapi, kadang aku merasa pertanyaan-pertanyaan mereka kadang harus pula dipikirkan. Bukan untuk menjadikannya beban, tapi hanya sekedar kontemplasi jiwa atas pertanyaan paling mendasar “What am I going to do in this life?”, dan “Do I really know what I want in my life?”. Tapi percaya atau tidak, sulit sekali menemukan jawaban untuk dua pertanyaan ini. Pernah di suatu sore, seorang teman (yang kondisinya serupa) menanyakan hal ini, dan aku menjawab dengan santai, “Aku lagi menikmati masa-masa ini, sambil memikirkan rencana kedepan tentunya. Bukankah kita akan bekerja for the rest of our lives, entah itu sebagai pekerja atau bahkan membuka lapangan kerja sendiri. Karena semua ada masanya, masa-masa seperti ini tentu tidak akan terulang, jadi nikmati saja.” Meski terdengar sangat diplomatis, tapi kurasa inilah jawabanku untuk rentetan pertanyaan di atas.

 

Living the Life As A Fresh Graduates

Dengan deskripsi kegiatan semasa kuliah yang kuceritakan di bagian awal tulisan ini, sudah bisa ditebak sedikit sekali tempat yang aku kunjungi untuk benar-benar berlibur dan spending time for nothing. Tapi tentu saja bukan berarti aku tidak menikmati hidup. Justru kesibukan selama masa kuliah adalah hal yang paling kurindukan saat ini. Kuliah, kerja, organisasi, me time, girls day/night out dan family time yang terus berputar tanpa henti semasa kuliah kujalani dengan senang. Tapi kadang, semuanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan lainnya. Misalnya, memaksakan pulang ke rumah di Palembang atau Sekayu sambil menenteng-nenteng laptop dan mengerjakan tugas organisasi. Atau, mengerjakan tugas kuliah saat sedang tugas liputan di luar kota. Semuanya bisa dilakukan, meski tak jarang aku harus membayarnya dengan waktu istirahat sepenuh hari di tempat tidur, kadang ditambah bonus kepala pusing dan suhu badan yang meningkat. Sungguh kehidupan yang terdengar seperti berpacu dengan waktu, meski sebenarnya tidaklah demikian jika tidak terlalu didramatisir.

Namun, pasca wisuda ini, aku lebih leluasa untuk menikmati waktu-waktu tertentu tanpa harus melakukannya bersamaan. Misalnya yang paling terasa adalah saat pulang kampung, aku tidak pernah lagi membawa laptop dan mencuri waktu mengerjakan sesuatu setelah obrolan malam-nan panjang bersama saudara dan orangtua. Menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa memikirkan ada teman yang menunggu balasan email kita atau atasan yang menunggu naskah berita rampung. Juga, menyenangkan sekali dapat berlibur bersama saudara. Melupakan sejenak rutinitas dan beban pikiran. Inilah bagian terbaik dari seorang sarjana baru yang telah memiliki pekerjaan. Tidak perlu merasa bersalah untuk secepatnya mendapatkan pekerjaan (jika memang tidak berencana meneruskan pendidikan), dan tidak perlu stress memikirkan pernak-pernik pendaftaran sekolah (karena memiliki alasan ‘masih fokus bekerja’).

Ini mungkin tidak patut ditiru. Kadang aku merasa aku sudah harus bisa mengesampingkan keinginan untuk mengaktualisasikan diri sebagai mahasiswa atau pemuda dengan embel-embel ‘youth activist’, karena aku rasa pengalaman semasa kuliah harusnya bisa menjadi pertimbangan untuk lebih fokus pada pemantapan karir. Tapi, kadang aku merasa kegiatan-kegiatan tersebut masih harus tetap dilakukan, karena ha-hal inilah  yang akan mengisi masa muda kita. Akhirnya, akupun mengambil jalan tengahnya, yaitu tetap melakukan kegiatan-kegiatan sosial namun berusaha memilih kegiatan yang lebih berkaitan dengan pekerjaanku. Misalnya, aku ikut tim Oscar Lawalata dalam upayanya meningkatkan kapasitas para pengrajin tenun di NTT. Aku juga mengikuti Kelas Inspirasi dan berbagi pengalaman kepada adik-adik di SD. Serta berbagi pengalaman sebagai news anchor di sekolah internasional. Semuanya berkaitan dengan pekerjaan dan ketertarikanku. Dan  rasanya, aku menikmati semuanya.

Hal menyenangkan lainnya adalah kepemilikan waktu yang lebih fleksibel. Meski ini bisa jadi boomerang jika tidak kita atur dengan baik, namun memiliki kapasitas untuk mengatur waktu sendiri adalah salah satu otoritas sebagai manusia mandiri yang patut disyukuri. Waktuku jauh lebih banyak kugunakan untuk istirahat (Oh ya, tidur menjadi hobiku), berolahraga, makan, dan jalan-jalan atau bahkan do nothing. Terlebih, jam kerja yang sangat fleksibel memungkinkan untuk memiliki waktu istirahat yang lebih banyak. Aku juga memutuskan untuk kembali melanjutkan kursus untuk balajar bahasa Mandarin. Janji yang cukup lama aku abaikan karena kesibukan lainnya. Pada bagian ini, rasanya sangat sombong jika masih tidak bersyukur. Karena, nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?

 

Try, try, and try, like nothing to lose.

Menyandang gelar sarjana tentu adalah sebuah kebanggaan pada diri sendiri. mungkin kebanggaanmu akan bertambah nilainya saat nantinya menyelesaikan pendidikan master ataupun doktor. Tapi pada masa ini, menjadi sarjana adalah salah satu pertanda bahwa kita adalah bagian dari masyarakat ‘pekerja’. Konsekuensinya, diskusi tentang pekerjaan akan semakin banyak mengambil porsi dari percakapan biasanya. Meski demikian, masih ada banyak hal yang dapat dilakukan sebelum benar-benar melanjutkan kehidupan di tahap selanjutnya, baik melanjutkan pendidikan ataupun menunggu panggilan kerja.

Di masa ini, ada beberapa kegiatan yang coba aku ikuti. Beberapa hanya sampai tahap mengirimkan aplikasi tanpa ada kelanjutan setelahnya, hal yang sering kita sebut sebagai kegagalan. Beberapa lagi sampai ketahap ‘selangkah lagi’, sedangkan sisanya memberikanku kesempatan untuk dapat merasakan pengalaman baru.

Pada awalanya, sulit meyakinkan diri untuk mengikuti beberapa ‘seleksi’ dalam kegiatan-kegiatan yang coba aku ikuti. Belum lagi waktu yang diperlukan untu recovery saat menghadapi kegagalan nampaknya akan semakin membuang waktu. Terlebih, seperti yang kukatakan sebelumnya, ego untuk lebih mementingkan pemantapan karir seringkali mendominasi. Itulah mengapa, mencoba sesuatu yang baru menjadi kemenangan tersendiri karena berhasil keluar dari belenggu pikiran yang mengutamakan kenyamanan. Dalam hal ini, kata-kata ‘Crisis should give the best of you.’, adalah suatu keniscayaan. Pada masa ini, mencoba ini-itu merupakan hal lain yang harus disyukuri. Karena nantinya, ada masa dimana kita memang diharuskan untuk fokus dan serius.

Setelah tiga bulan menikmati hidup sebagai sarjana baru, aku memutuskan untuk lebih serius dalam menjalani profesi sebagai jurnalis muda. Aku ingin belajar lebih banyak hal dan mencoba lebih banyak hal yang berkaitan dengan dunia ini. karena pada kenyataannya, dua tahun didunia ini belum banyak memberiku pengalaman. Aku menyadari bahwa aku jauh lebih semangat untuk menjalani tugas liputan, live report, menulis naskah, mencari data, hingga menjadi bagian dari redaksi suatu program pemberitaan. Pengalaman semacam ini aku yakini bisa aku dapatkan di TVRI. Masih banyak hal yang belum aku kuasai, dan aku patutu bersyukur karena mendapatkan kesempatan belajar di tempat yang sama dimana para jurnalis handal negeri ini belajar, sebelum mereka menjadi terkenal seperti sekarang.

 

Getting to know more about someone

Kalimat ‘Things come and go.’, sangat pas untuk mengambarkan kehidupan LIFE AFTER HI ini. Ada banyak kesempatan dan peluang baru yang terbuka lebar dan tentu saja menanti. Tapi ada pula beberapa hal yang harus direlakan pergi. Kesibukan, malam-malam panjang penuh deadline tugas, obrolan sore bersama teman-teman kampus, adalah beberapa hal yang pergi dari rutinitas sehari-hari. Meski kadang masih tetap dapat diusahakan, namun kondisi dan suasana tentu telah berbeda. Tidak dapat dielakkan, lingkaran pertemanan dan pergaulan secara otomatis akan berpindah, dan meluas. Akan ada banyak orang-orang baru yang kita kenal, dan mungkin menjadi bagian dari rutinitas.

Tentu banyak dari teman-temanku yang telah mulai mengenal seseorang (atau sebaiknya kita sebut partner?) sejak SMP, SMA atau kuliah dan bertahan sampai saat ini. Tapi, setiap orang tentu punya cerita berbeda. Bagitupun denganku. I said yes to another one, another commitment to know someone even better. Meskipun kadang cerita kita tidak terdengar seperti kebanayakan fairy tale, namun cerita semacam ini adalah bagian tersendiri dalam fase ini. Perasaan senang, kesal atau bahkan marah adalah perasaan-perasaan yang mewarnai pengalaman baru untuk mengenal seseorang lebih jauh. Bagiku, proses ini adalah bagian dari menemukan sahabat baru. Menjadikannya familiar dengan rutinitas kita, menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi sepanjang hari, atau sekedar berbagi keluhan yang terbungkus dalam cerita pengantar tidur. Saling menghibur dan saling mendukung satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<