Welcome to

Maya Susanti

Home / Uncategorized / My Pregnancy Journey

My Pregnancy Journey

None tells being pregnant is easy, but it is indeed a blessing of being a woman. For me, the journey was fruitful and unforgettable.

Sejak hamil sudah niat pengen nulis ini dengan tujuan sharing, siapa tau ada yang baca. So, here it goes. Kalo kebetulan baca, semoga bermanfaat ya!

Memilih dokter dan RS

Begitu tau hamil, saya dan suami langsung mencari referensi dokter kandungan dan rumah sakit terbaik. Namanya juga anak pertama ya, semua harus yang terbaik. Hehe. Tapi bagi kami, definisi terbaik disini adalah yang reachable secara jarak (dengan faktor kemacetan Jakarta), dan tentunya punya fasilitas dengan dokter yang cocok. Plus banyak direkomendasikan oleh teman-teman ataupun keluarga. Harga di Jakarta kayaknya mirip-mirip ya untuk RSIA, jadi tidak menjadi penentu utama. Ada banyak RS di Jakarta yang masuk dalam daftar kami, tapi pilihan akhirnya jatuh ke KMC / RSIA Kemang. Dokter yang banyak direkomendasikan adalah dokter Ridwan (yang bantu Gempita lahir), tapi karna jadwal beliau yang padat, kami akhirnya “berjodoh” dg dr. Febriansyah Darus, Sp.OG.

Kontrol pertama dengan dr. Febri sebenernya agak kurang sreg entah kenapa. Pilihan dokter memang cocok-cocokan sih ya. Tapi suami tetap menyarankan untuk datang kembali bulan depannya, dan sejak kontrol kedua, Alhamdulillah nyaman-nyaman aja. Dokter Febri ini tipe bapak-bapak gaul nan sibuk (yaiyalah ya namanya juga dokter). Selain di KMC, dr. Febri juga praktek di RS Hermina Jatinegara. Beliau bisa ditanya via WA , tapi slow response. WA pertama dan kedua masih dibales, selanjutnya wassalam ga ada balasan. Hehe. Setelah kepo sedikit, dokter ini ternyata ahli fetomaternal aka ahli membaca hasil USG. Pernah pas kontrol, dijelaskan secara detail (itu juga karna nanya), tapi di kesempatan lain, antrinya 3 jam lebih, kontrol sama dokternya paling 10 menit. Itu kalo ga salah waktu dokternya abis operasi pasien lain. Pelajarannya, harus banyak nanya waktu kontrol. Tapi dokternya ga pernah bilang apakah bayi kami kelilit tali puser atau ga, mungkin karena ga kelilit, makanya ga dibilangin kali ya. Karna menurut dr. Febri yang terpenting adalah USG biasa, waktu saya minta 4D, dibilangin gini: “USG 4D itu ga penting, cuma hiburan. Kalo Ibu mau 4D, nih saya kasih liat.” Dan, kami melihat dede bayi di layar, masih malu-malu waktu itu, menutup muka dengan tangan khas bayi. Tapi hasilnya ga dicetak, kamipun cuma bayar seharga USG 2D. Rezeki dede bayi ya, karna harga USG 4D itu lumayan, sekitar 750k++.

Meski merasa cocok sama dr. Febri, kami akhirnya memutuskan untuk cari alternatif dokter di RS Premier Jatinegara karena KMC ga ada dalam daftar RS mitra Telkom. Biaya persalinan ternyata lumayan ya. Sementata kami pengennya seluruh biaya lahiran di cover kantor. Maklum millennials kelas menengah. Haha! (Well, biaya bisa di reimburse sekitar 40-50% tapi kami sepakat untuk memanfaatkan fasilitas kantor biar alokasi budget lahiran untuk beli keperluan bayi). Akhirnya di minggu ke-24 kalo ga salah, kami kontrol ke dr. Lia di RS Premier Jatinegara atas rekomendasi temen dan karna pengen sama dokter perempuan. Tapi kesan pertama kurang cocok karna dokternya agak panikan waktu baca hasil tes darah saya, jadilah saya diresepin ini itu, padahal hasilnya sama sejak kontrol di dr. Febri dan ga ada masalah. Oh iya, saya darah rendah, katanya ibu hamil ga boleh darah rendah, jadi sisa waktu kehamilan, saya harus kejar target biar ga darah rendah. Sedih, padahal saya darah rendah sejak masih ngompol. Dibilangin gitu, malah sedih, namanya juga bumil ya. Waktu USG, saya nanya-nanya, trus sama dokternya malah disuruh nanya dr. Febri biar jelas. Akhirnya balik ke dr. Febri dan waktu kontrol dinyatakan semua masih normal, fyuh.

Tapi karna sudah bulat lahiran di RS Premier JTN, akhirnya cari info sana-sini di kantor, minta rekomendasi ke senior-senior. Disarankan ke dr. Fransiscus Putuhena, Sp.OG. Dokternya sudah tua, tapi tenang dan pro normal. Setelah bertemu, diminggu ke 34-35 kalo ga salah, hati ini rasanya cocok, ceilah! Seperti biasa di tiap trimester, ada fasilitas cek darah dari kantor. Di trimester ketiga ini, hasilnya diserahkan ke dr. Frans. Meski tetap darah rendah, beliau bilang wajar karna lagi hamil. Waktu bilang mau normal, juga dijelaskan bahwa lahiran itu banyak faktornya. Akan selalu diusahakan normal, tapi kondisi ibu dan anak akan menjadi prioritas jika terjadi kasus lain. Dokternya juga menjelaskan proses melahirkan, menyarankan senam hamil, dan harus sugesti diri sendiri untuk lahiran normal, kata dokternya yang saya ingat: “Melahirkan itu pasti sakit, itu yang harus disadari dan diterima, tapi itu kodrat wanita, jadi terima dan jalani saja kalo memang mau normal.”

Jadi intinya, untuk pilihan dokter dan RS, benar-benar harus dicari, pahami bahwa semuanya ada faktor kecocokan. Mau dimanapun, asal cocok ga masalah, yang penting nyaman, dan tentunya, harus banyak nanya waktu kontrol, toh kita udah bayar. Karena dokter itu kan pasiennya banyak dan yang dihadapi itu-itu aja, jadi kita yang harus pro aktif nanya.

Yoga dan Senam Hamil

Sejak di Glasgow, saya beberapa kali yoga dalam sebulan—ga bisa dibilang sering karna ga tiap minggu banget dan ga teratur. Yoga memang olah tubuh yang praktis dan simpel, contohnya juga banyak di youtube. Jadi, waktu hamil saya senang karna olahraga yang justru disarankan adalah yoga dan berenang. Saya suka keduanya, jadi ga masalah. Tapi memang dasarnya pemalas ya, jadi ala kadarnya saja. Hehe. Di awal-awal hamil, saya yoga di kosan. Saat masih kos di Senayan, kami berenang di Manggala Wanabakti (cukup bersih dan terjangkau!). Begitu masuk trimester ketiga, saya tanya ke dr. Febri tentang yoga dan senam hamil di KMC. Dokternya cuma bilang: “Ga wajib itu, ikut aja 1-2 kali yang penting tau teknik bernafas.” Atas saran dokter, saya ga ngoyo mau ikut kelas yang ada. Bahkan ga pernah yoga di KMC, malah yoga di RSPI Pondok Indah karena “terpengaruh” cerita teman. Haha. Di RSPI sekali sesi 150ribu dan ada biaya pendaftaran 55ribu kalo dokter kita bukan disana. Yoga hamil di RSPI pake instruktur dari nujuhbulan studio yang terkenal itu dan dapat bonus kelas singkat tentang laktasi. Worth it sih. Tapi ternyata yang paling ngaruh itu adalah senam hamil khususnya di RS tempat kita rencana melahirkan nantinya. Jadilah saya daftar kelas senam hamil di RS Premier Jatinegara dengan biaya 45ribu saja! Kelasnya sekitar 90 menit dengan istruktur bidan, meski kelasnya kecil, tapi sungguh sangat bermanfaat. Jadi saya cuma ikut sekali yoga hamil dan sekali senam hamil. Sisanya belajar dari youtube dan praktik langsung tiap weekend. Ditambah dengan rajin jalan dan naik turun tangga busway, Alhamdulillah persalinan berjalan normal. Cerita persalinan dan serunya belanja perlengkapn baby ditulis di postingan terpisah ya!

Ngidam dan Moodswing

Selama hamil, Alhamdulillah saya tidak ngidam yang macam-macam. Terlepas dari fakta bahwa ngidam itu tidak ada dalam istilah kedokteran, saya merasa kadang tetap pengen makan sesuatu. Misalnya pengen yang pedas dan ada micinnya. Haha (mohon jangan ditiru). Dokter juga tidak melarang makan apapun kecuali dalam batas normal. Dokter cuma bilang usahakan makan yang matang. Tapi seperti wanita hamil pada umumnya, saya juga mengalami morning sickness alias muntah-muntah, kadang di pagi hari, kadang di sore hari. Tapi hanya di awal masa kehamilan. Tambahannya, saya mudah mengantuk selama hamil. Padahal saya tipe orang yang memang pelor, jadilah waktu hamil, makin-makin deh jadi tukang tidur. Sementara perkata moodswing, rasanya memang normal ya ibu hamil mengalami hal ini. Untuk saya sendiri, selama hamil rasanya jadi lebih cengeng dan sensitif, sedikit-sedikit nangis. Huhu. Semoga nanti tidak berpengaruh ke anak. Aamiiin. Selama hamil, dukungan dari suami dan keluarga sangat berarti, meski sangat bahagia karena sebentar lagi bertemu dengan buah hati, ibu hamil kadang galau yang tidak jelas, misalnya mengeluh karena gendut. Hahaha. Selama hamil saya naik 15kg, dan langsung berkurang 7,5kg begitu lahiran. Sekarang belum tau BBnya karena belum nimbang lagi. Entah kenapa jadi berasa kurus karena menyusui dan urus sendiri (sugesti positif). Cerita mengurus bayi di postingan selanjutnya ya!

I know I write some curcol here, tapi semoga tulisan ini bermanfaat ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<