Welcome to

Maya Susanti

Home / Uncategorized / Being A Mother: A Very Beginning

Being A Mother: A Very Beginning

Sebulan ini saya merasakan menjadi seorang Ibu. Rasanya? Campur aduk. Senang? Sudah pasti. Capek? Alhamdulillah iya. Tapi setiap kali saya mulai merasa capek, saya selalu menatap lekat-lekat anak kami, capeknya tentu tidak hilang ya, tapi ada perasaan bangga menjadi seorang Ibu, apalagi sejauh ini kami mengurus anak secara mandiri (tanpa bantuan orangtua atau nanny). Solusi ini akan saya lakukan kalo level capeknya masih sekedarnya. Kalo ditambah capek abis masak, beres-beres rumah dan nyuci, tentu level capeknya bertambah drastis. Meminjam istilah teman-teman saya, rasanya badan seperti diperas.

Setiap kali mulai merasa capek dengan level yang meningkat, saya selalu ingat Ibu saya di Sekayu. Ibu saya punya anak tiga, tidak punya ART apalagi nanny, mengurus anak sendiri tapi masih aktif bekerja sebagai PNS, masih buka usaha menjahit dan katering kecil-kecilan dan tentunya menjalankan peran sebagai seorang istri (masak, beres-beres rumah dan perintilan lainnya). Dengan deretan aktivitasnya, Ibu saya tidak pernah mengeluh, jadi kenapa saya harus mengeluh merasa seolah-olah capek sendiri?

Atau, untuk melihat yang lebih relevan, saya selalu mengingatkan diri untuk melihat Ibu-Ibu millenials di sekeliling kami. Dulu waktu di Glasgow, ada Teh Iim dengan dua batitanya. Meski full time mother dan mendampingi suami yang sekolah, Teh Iim masih sempet masak untuk usaha kateringnya. Tinggal jauh dari orangtua, jangan tanya betapa beratnya memikul rindu dengan keluarga dan kampung halaman yang kadang membuat rasa lelah menjadi berkali lipat. Tapi Teh Iim tetap terlihat bahagia dan tidak mengeluh. Lantas, kenapa harus mengeluh?

Tapi tantangan jadi Ibu di masa Ibu saya mungkin berbeda dg yang ada saat ini. Dulu metode mengasuh anak mungkin sudah ada pakemnya, jadi Ibu-Ibu pasti melakukan hal yang sama. Tapi sekarang tentu berbeda, referensi mengasuh anak bisa datang dari mana saja, media sosial tentu punya andil besar. Ada namanya mom war dimana perdebatan biasanya seputar ASIX vs Sufor, BLW vs spoon-feeding, Ibu bekerja vs Ibu tidak bekerja, macam2, dan ada banyak.

Menyikapi netizen dan segala dramanya, saya berusaha untuk tidak ambil pusing. Saya dan suami gotong-royong mengasuh anak. Punya anak berarti hari dimulai lebih pagi dengan bonus begadang. Sebulan pertama rasanya luar bisa capek. Tapi sekarang sudah tau triknya khusus bagi kami yang tinggal jauh dari orangtua dan memilih untuk tidak menggunakan jasa nanny. Apa saja?

Saya berusaha untuk bangun lebih awal, paling tidak jam 5:15. Tidak butuh alarm canggih, suara anak bisa membangunkan kita. Hehe. Hari saya dimulai dengan pumping. Sebelumnya, merendam pakaian iona. Biasanya dapet sekitar 120-150 ml pumping di pagi hari. Setelah itu, saya lanjut mandi dan mencuci baju iona. Setelah mandi, saya menyiapkan perlengkapan mandi iona, ganti bajunya, dan memandikannya sampe memakaikannya baju. Saya biasanya minta tolong ayahnya untuk menjaga iona ketika saya mandi dan setelah iona mandi. Karena saya akan langsung menyapu rumah setelahnya. Saat kami bertiga sudah rapih, kami sarapan bersama, ayahnya iona yang menyiapkan (hasil kesepakatan bersama— well, pemindah-alihan tugas). Selanjutnya, kami turun bersama, ayahnya berangkat kerja, saya dan Iona berjemur.

Setelah berjemur, Iona biasanya akan minta susu dan kami tidur bersama. Iona tidur, baru deh saya bisa main hape, termasuk menulis tulisan ini. Sekitar jam 12an atau jam 1, saya memastikan iona kenyang dan tertidur, baru deh saya masak untuk makan siang. Sekedarnya karena buat sendiri. Yang penting mengusahakan ada sayur dan lauk. Setelah makan, kami main bersama (kalo iona tidak tidur), saya lanjut pumping atau beres-beres. Agak sorean, kami turun ke bawah, jalan-jalan di sekitar kolam apartemen. Selanjutnya pulang kembali dan siap-siap mandi. Begitu ayahnya iona pulang, setelah ganti baju, saya minta tolong untuk gantian menjaga iona, karena saya akan memasak untuk makan malam. Setelah itu, cuci piring, lipat pakaian. Dan tidur bersama iona. Alhamdulillah Iona anak yang anteng dan ga suka begadang, jadi tiap malam kami kadang hanya bangun 2 kali untuk ganti popok dan menyusui. Tapi di 2 minggu pertama Iona layaknya bayi biasa ya, kami begadang juga. Hehe. Anyway, rutinitas ini hanya berlaku saat saya cuti, dan tentu tidak saklek. Kadang kami tidak jalan-jalan sore, hanya di kamar quality time.

Saat weekend, hari Sabtu atau Minggu subuh, saya menyempatkan diri untuk berbelanja sayur di pasar pagi dekat apartemen. Hanya sekitar 1 jam. Siangnya biasanya kami pergi, kadang groceries di mall, kadang sekedar makan siang di luar, atau “mengungsi” ke rumah dinas mertua di Kemanggisan. Intinya, weekend adalah waktu kami untuk bersama dan pergi-pergi. Intinya refreshing ya, baik untuk saya yang senin-jumat di rumah, ataupun untuk suami saya yg senin-jumat bekerja.

Kalau mau dipikir-pikir, rutinitas ini terdengar biasa bagi yang belum mengalaminya. Atau terdengar luar biasa bagi yang pernah mengalaminya. Bagi saya, ini pengalaman yang luar biasa. Stage of life yang pasti akan sangat berkesan. Saya mencoba menikmati setiap detik kebersamaan dengan iona sebelum nanti mulai bekerja. Dukungan dari suami, keluarga dan sahabat adalah penyemangat saya. Dan, kalo lagi capek, saya mengingat hal-hal yang saya sebutkan di atas.

Being a mother is indeed a blessing and I am grateful for that…. Belum apa-apa udah mellow nanti mau nitipin Iona di daycare kalo cuti berakhir. Gapapa, nanti Ibu nengokin Iona terus ya kalo lagi istirahat…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<