Welcome to

Maya Susanti

Home / Uncategorized / 7 Alasan Daftar Kerja di Telkom

7 Alasan Daftar Kerja di Telkom

Sebelum akhirnya memutuskan bergabung di Telkom, saya bekerja sebagai jurnalis selama tiga tahun lebih di satu-satunya TV milik negara. It was a great experience, banyak ceritanya di blog ini. Oh ya, setelah pulang sekolah master di UK, saya pun sempat kembali bekerja sebagai jurnalis sampai tawaran untuk daftar kerja di Telkom via Mata Garuda (alumni LPDP Awardee) mendarat di email saya. Dari yang niatnya cuma “testing the water” dan “nothing to lose”, kini saya sudah bekerja di Telkom, tepatnya di Human Capital Communication yang salah satu job desk-nya “memastikan” teman-teman freshgraduate tertarik untuk bekerja di Telkom. Di poin ini sampai akhirnya menjadi karyawan Telkom, saya cuma bisa bilang, “you’ll never know where life takes you, so just enjoy”!

Anyway, tulisan ini saya buat bukan karena alasan pekerjaan (karena saya sekarang sedang cuti selama 3 bulan, jadi bebas dari urusan kerja, hehe). Tapi karna alasan pribadi untuk berbagi, siapa tau ada yang lagi galau kerjaan dan memutuskan bergabung dengan kami di Telkom. Oh ya, disclaimer ini murni pendapat dan pengalaman pribadi tanpa endorse! Ditulis sebagai kado ultah Telkom ke-53, ceilah! Dan… berikut 7 alasan kenapa kamu perlu consider kerja di Telkom di era digital ini.

1. Telkom itu Digital (dan membantu Indonesia digital). Di era digital sekarang, rasanya catch up dengan tren kekinian adalah fardhu’ain alias wajib. Di Telkom, semua hal sudah digital, mulai dari presensi, cuti online, meeting, dan lain-lain, semua serba digital. Dan ini membantu kita untuk belajar cepat dan melek teknologi, mau ga mau sih ya. Untuk urusan ini, Telkom keren sih. Saya bandingkan dengan perusahaan suami yang adalah MNC (Multi National Corporations), beberapa fitur digital di Telkom lebih kekinian. Misalnya, Telkom punya Diarium (media kolaborasi semacam FB –tapi lebih lengkap — yang dibikin sendiri sama orang Telkom), di kantor suami pakenya FB for Office, yha masih menang Telkom lah ya. Hihi. #bangga! Atau saya sempat tanya ke temen yang kerja di Facebook, ternyata sistem digital di Telkom juga ga kalah dengan disana yang serba digital. Nah, fasilitas ini sangat memudahkan karyawan tentunya. FYI, banyak BUMN dan lembaga pemerintah lainnya yang “belajar” untuk jadi lebih di digital di Telkom. Menyenangkan dong bekerja di tempat yang reputasinya bagus dan bisa “membantu sesama”? Oh iya, Telkom juga membantu men-digital-kan Indonesia lewat banyak cara. Misalnya menciptakan perpustakaan digital untuk dunia pendidikan, membantu para petani dan nelayan melek teknologi, menjembatani pelaku UMKM agar go digital, memberikan banyak edukasi tentang hal-hal berbah digital secara luas di seluruh Indonesia. If you are kind of person who work for a good cause, you may consider Telkom. Karena Telkom–baik induk perusahaan ataupun 73 anak perusahaannya– memberikan kontribusi kepada masyarakat Indonesia (yang paling jelas lewat kontribusi pajak yang cukup besar untuk membangun bangsa!). Yang paling sederhana, Telkom menghubungkan kita agar tetap bisa bersilaturahmi meski berada jauh dari kerabat (Telkom as a provider). Dan tentu masih banyak lagi kalo mau dibuag daftarnya. Hehe.

2. Gaji diatas rata-rata. I know this point is crucial so I put it here. Untuk freshgrad, gaji dan benefit di Telkom terbilang lumayan. Saya udah “benchmark” kiri-kanan untuk sesama BUMN, PNS maupun MNC/swasta. Meski bukan urutan pertama dalam jumlah angka, gaji di Telkom itu diatas rata-rata. Belum lagi ada bonus, THR yang bisa sampe 2 kali gaji, dan uang SPPD (kalo sering dinas luar kota, tapi ini ga boleh dihitung pasti ya karna tergantung kegiatan kita). Total yang didapat selama setahun pasti cukup buat nabung— kecuali kamu hedon banget, ya ga akan pernah cukup mau gaji berapapun ya. Oh ya, di Telkom juga ada uang bantuan perumahan, dikasih per 2 tahun, cukup kok kalo mau DP cicilan KPR atau beli tanah (asal bukan di Jakarta). Intinya, untuk urusan gaji, kalo kamu freshgrad dan belum ada tanggungan (istri/anak), InshaAllah cukup ya. Memang, di awal-awal kerja khususnya periode OJT (6 bulan awal), semua terasa pas-pasan, tapi begitu sudah genap setahun aja, nanti bisa senyum-senyum sendiri liat rekening tabungan yang tiba-tiba gendut. Tapi…. cukup itu relatif sih ya. Buatku, Alhamdulillah cukup dan tetap bisa nabung (Terimakasih, suami! Hehe).

3. Jaminan kesehatan (dan pensiun)! To be honest, kita kadang take everything for granted, apalagi untuk urusan kesehatan. Ya gimana ya. Secara kita freshgrad, merasa sehat-sehat aja, jadi ga peduli urusan jaminan kesehatan. Maunya kerja dengan gaji tinggi, kerja yang bener sampe kaya– demo memuaskan keinginan! Lagian, siapa yang mau sakit kan ya? Tapi ini akan terasa kalo kita pernah sakit, biaya kesehatan itu mahal lho! Di Jakarta, ke sekali periksa ke dokter pasti 500K++, kalo sekali masuk UGD biayanya 1,5jutaan. Belum kalo rawat inap, dll. Semuanya baru akan terasa kalo sudah mengalaminya. Di Telkom, kesehatan itu salah satu prioritas, bahkan Telkom punya Yayasan Kesehatan (Yakes) sendiri. Berobat ke yakes akan menyenangkan, karena gratis. Tapi, kalopun harus dirujuk ke RS untuk tindakan lain, misalnya operasi, juga akan dibiayai. Kemaren, waktu suami saya sakit sampai masuk UGD, semua biaya di-reimburse, 100%. FYI, Telkom menanggung suami/istri dan maksimal 3 anak. Ketika hamil, tiap trimester kita dirujuk ke Obgyn untuk USG bahkan diberikan fasilitas cek darah lengkap (ini berguna banget), sampe nanti kontrol jelang kehamilan, melahirkan, dan kontrol setelah melahirkan juga ditanggung! Khusus untuk lahiran di Jakarta, bagi yang belum tau, di RS rata-rata harganya 20-25 juta untuk normal dan lebih dari itu untuk C-Section. Kebayang dong kalo harus bayar sendiri? Gapapa sih kalo punya uang, tapi saya prefer memanfaatkan fasilitas kantor! Uang tabungan mending buat beli perlengkapan bayi — yang harganya ga murah. Prinsip saya, selagi masih ditanggung kantor, harus dimanfaatkan karena oh karena ngurusnya pun gampang! Dan, sejauh ini tidak ada plafon untuk jumlah reimburse ataupun berobat. Oh ya, untuk pensiun, memang tidak ada gaji yang diberikan tapi ada DPLK namanya, tiap bulan dipotong dari gaji kita tanpa kita sadari yg nantinya bisa diambil sekaligus atau dibayarkan selayaknya gaji jika diinginkan. Bisa juga diambil bertahap kalo mau. Tapi sih untuk yang ini mending ga usah diinget-inget biar nanti pas pensiun atau pindah kerja tiba-tiba ada “bonus”, hehe.

4. Karir yang bertahap, tapi jelas. Di Telkom, sistem penilaian kerja kita dilakukan secara digital. Ada platform karir namanya Ingenium. Yang teranyar ada Esperantum. Jadi performa kita dapat dilihat secara jelas dan obyektif. Juga ada penilaian 360 derajat oleh atasan dan rekan kerja setiap tahunnya. Normalnya, dari entry level, kita butuh 2-3 tahun untuk naik ke band position (BP) selanjutnya. Urutanjya dari BP-VI ke BP-I. Begitu sampai BP IV, di kantor regional (kota/kab), levelnya setara asisten manajer, atau manajer di anak perusahaan. BP III setara manajer, BP II itu GM, biasanya kepala regional kab/kota di level ini. Dan terakhir BP I itu setara BOD-1. Selain kinerja, tentu banyak faktor yang membuat karir kita menanjak, tapi setidaknya, ada arah yang jelas. Sebagai millenials kita tentu pengen karir yang jelas kan ya, biar bisa merencanakan kehidupan. Misalnya, target kerja 10 tahun biar bisa diposisi manajer atau GM. Di Telkom, semua itu mungkin menurutku. FYI, dalam dua tahun kedepan, akan banyak karyawan Telkom yang pensiun. Meski jumlah rekrutmen karyawan tidak akan sebesar jumlah yang pensiun, tapi kalo udah jadi karyawan, akan banyak peluang untuk berkarir menempati posisi-posisi kosong seantero Telkom (dengan 73 anak perusahaan dan 11 footprint di luar negeri). Asal ga buru-buru resign ya. Hehe.

5. Kesempatan kuliah lagi dan kerja di luar negeri! Sejak beasiswa LPDP diluncurkan, jumlah mahasiswa Indonesia yg belajar ke LN meningkat drastis. Seleksi pun tentu semakin ketat. LPDP memang untuk semua orang, tapi kalo bisa mendapatkan kesempatan lain yang lebih baik via Telkom, kenapa engga? Hitungannya, membuka satu jalur kesempatan lain selain LPDP dan beberapa jalur beasiswa yang existing. Lewat skema beasiswanya, Telkom juga punya program menyekolahkan karyawannya di jenjang master dan doktoral dalam dan luar negeri. Di Telkom, kalo sekolah masih dapat gaji karena dihitung tugas belajar. Kalo ga mau sekolah tapi mau punya pengalaman kerja di luar negeri, Telkom juga punya jalurnya, lewat program Global Talent Program, karyawan bisa kerja di luar negeri selama periode tertentu, atau kalo memang “berjodoh”, bisa juga ditugaskan di 11 footprint Telkom di luar negeri. Jadi semacam one ticket for various destinations gitu.

6. Working at the best place! Telkom satu-satunya BUMN yang listing di bursa saham Indonesia dan New York. Saham di Indonesia selalu masuk LQ45 dan tiap tahun selalu memberikan deviden kepada pemilik saham. Secara tidak langsung, ga heran kalau Telkom punya fasilitas oke di kantornya. Fasilitas kantor Telkom di Jakarta memang menyenangkan. Di tiap lantai ada kursi pijet, ada gym gratis, karoke gratis, dan masih banyak lagi. Tapi di kantor regional (kantor di ibukota propinsi) ataupun di witel (kantor di kab/kota) fasilitasnya juga sudah semakin membaik. Rencananya tiap tahun akan bertahap direnovasi. Tapi lebih dari itu, kerja di Telkom akan membuat kita lebih “kaya” karena ada banyak orang hebat yang bisa kita jadikan mentor, baik dalam performansi kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak orang-orang bertalenta yang rendah hati dan senantiasa berbagi. Ada menteri, direksi BUMN di Indonesia, sampai orang-orang penting lainnya berasal dari didikan Telkom. Belum lagi kehidupan beragama dan tingkat toleransi yang tinggi. Menjadi anak rantau jadi bukan masalah karena di Telkom, rasanya seperti punya keluarga sendiri. Karena, bekerja bukan hanya sekedar didepan laptop tapi juga bagian dari belajar sebagai makhluk sosial. Sepakat?

7. Suasana kekeluargaan di lingkungan kerja. Poin ini menyambung poin sebelumnya. Tapi ini agak subjektif ya. Di tempat lain mungkin begitu juga. Tapi saya merasakan di Telkom itu, kerja ya kerja, tapi value-nya, keluarga tetap yang utama. Saya ingat waktu mau ngurus nikah, belum boleh cuti waktu itu, tapi bisa kok izin, dan dibolehin. Trus waktu nikah, semua tim diboyong ke Sekayu untuk menghadiri pernikahan. Acara di Jakarta pun, direkturnya dateng dan mau antri salaman tanpa akses VIP. Memang sih ini mungkin biasa, tapi secara anak baru yang belum berkontribusi apa-apa, ini sesuatu banget! Sampai waktu hamil, semua orang perhatian sekali, jangan sampai kita kecapean, hingga makanpun diperhatikan. Sekarang udah punya anak, waktu lahiran semua pada jengukin termasuk bos-bos sampe BOD-1. Mereka se-perhatian itu sih. *berkaca-kaca*. Oh iya, karna suasana kerja yang kekeluargaan ini, kerja banyak memang tidak langsung jadi ringan, tapi ada toleransi dan kiriman semangat dari lingkungan kerja — yang membuat kita tetap survive! Hehe.

Nah, itulah 7 alasan yang membuat saya betah bekerja di Telkom sejauh ini. Memang masih terbilang sangat baru sih. Belum banyak suka-duka yang dialami. Tapi sebagai bagian dari kaum millenials yang dikit-dikit mikir mau resign, kerja di Telkom membuat saya punya rencana jangka menengah (kalo bukan jangka panjang) tentang karir saya— yang sekarang bukan cuma seorang istri, tapi juga seorang Ibu. Entah kenapa saya yakin, Telkom adalah tempat yang cocok untuk saya yang masih mau mengejar mimpi tapi tetap menomorsatukan keluarga. Bekerja bagi saya adalah salah satu sumber kebahagiaan, tapi keluarga adalah prioritas. Telkom rasanya memiliki value ini. Jadi, terlepas dari kesempatan lain yang lebih baik nantinya di tempat lain, saya berdoa semoga “jodoh” saya dan Telkom cukup panjang! Hehe.

Jadi, buat kalian yang sedang galau mencari kerja, mungkin Telkom bisa menjadi alternatif pilihan— kalo bukan pilihan pertama. Selain lewat jalur LPDP, masuk Telkom juga bisa lewat jalur talent scouting di kampus mitra, ataupun web rekrutmeny. Mumpung sebentar lagi buka, I think it worth a shot! Selengkapnya bisa mampir kesini ya: rekrutmen.telkom.co.id. Good luck!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<