Welcome to

Maya Susanti

Home / Personal Story / CERITA PERSALINAN IONA

CERITA PERSALINAN IONA

Kontraksi itu seperti apa? Kalo mules mau melahirkan rasanya gimana?

Pertanyaan diatas adalah dua hal yang selalu membuat saya penasaran. Meski sudah tanya sana sini, baca buku ini itu, blog walking sampe nyasar-nyasar ke blog bahasa Rusia, tak juga kutemukan jawaban yang membuat hati tenang. Dasar calon mamak-mamak ya! (waktu itu).

Tapi benar adanya, ada beberapa pengalaman yang harus kita rasakan sendiri agar bisa memahaminya. Jadi, setelah proses persalinan tempo hari, akhirnya saya bisa memahaminya dan jawaban saya untuk dua pertanyaan diatas adalah:

1. Kontraksi itu seperti sakit perut mau mens atau mens hari pertama. Melilit. Mirip-mirip sakit maag tapi rasa sakitnya datang dan pergi! Disebut kontraksi palsu kalo cuma terjadi bentar trus sama sekali hilang. Nah, kalo rasa sakitnya sudah muncul teratur setiap 5 menit sekali dengan durasi sekitar 1 menit. Artinya sudah terjadi pembukaan, dan akan segera melahirkan. Ada 10 pembukaan. Katanya dari pembukaan 1-10 normalnya sekitar 8 jam. Normalnya ya, karna tiap orang pasti beda ceritanya.

2. Mules mau melahirkan rasanya seperti mau pup tapi rasa sakitnya lebih-lebih. Sekitar 2-3 kali lipat dari sembelit yang luar biasa. Kira-kira ya. Sayangnya, kita ga boleh ngeden kalo pembukaan belum lengkap 10, jadi gimana ya rasanya mau pup tapi harus tahan. Begitulah….

BTT, cerita persalinan tiap orang pasti berbeda. Karena saya percaya hal ini memang didesain personal. Dalam cerita saya, persalinannya Alhamdulillah berjalan lancar. Butuh waktu 2 jam dari awal tiba di RS sampai akhirnya bayi cantik kami menyapa dunia lewat tangisannya.

Ceritanya, waktu itu hari Jumat sore di bulan puasa. Kebayang dong ya macetnya Jakarta seperti apa? Seperti antrean mobil di pelabuhan Merak jelang lebaran tanpa sistem buka tutup. Alhasil, perjalanan dari Telkom Gatsu ke RS Premier Jatinegara memakan waktu tempu 2,5 jam karna oh karena daerah Tendean macetnya Allahuakbar! Saking macetnya, bisa beli gorengan dan minuman di jalan, tinggal panggil abangnya dan tadaaa, gorengan siap dimakan—karena mobil kita bahkan ga gerak cuy! Nyaris parkir di jalan.

Dalam perjalanan, saya sudah merasakan sakit yang luar biasa. Sebelumnya setelah sholat zuhur, sakitnya sudah mulai terasa. Tapi karena ga tau kalo itu kontraksi, saya santai saja dan masih di kantor loh! Dari pagi memang agak sakit, tapi kata dokter kalo belum teratur ga usah ke RS, jadilah diriku menganggap itu mungkin kontraksi palsu— karena belum pernah mengalaminya: sotoy! Terlebih, biasanya kalo mens, saya terbiasa dengan rasa sakit yg luar biasa jadi ya biasa aja.

Tapi untungnya saya bersama suami yang terlihat sangat tenang atau pura-pura tenang (?). Tapi doi terus mengingatkan untuk atur nafas. Begitu sampai di RS, ternyata sudah pembukaan 3. Suami langsung diminta untuk urus administrasi. Setengah jam kemudian katanya sudah pembukaan 6. Tapi saya tidak diberitahu, hanya suami yang diinfokan oleh 2 orang bidan yang bertugas. Mungkin karena mereka ingin agar saya fokus mengatur nafas. Sakitnya memang semakin menjadi-jadi sampai jam 8 malam, dokter Frans datang sambil senyum seakan diriku teman lamanya yang udah lama ga ketemu. Senyum lebar ala iklan pasta gigi.

Usai sapa-sapa lucu dan nanya kabar, dr.Frans langsung melakukan pemeriksaan, ga begitu jelas apa yang beliau katakan. Yang aku denger cuma: “semua bagus.” Lantas dokternya bilang gini: “Ibu sudah ikut senam hamil kan? Nanti praktekkan cara nafas dan ngeden ya. Sekarang udah boleh ngeden kalo udah berasa. Sesuai ajakan ade bayinya ya.” Dan, mulailah saya ngeden mau seperti mau pup. Tapi ga semulus itu ya. Sy sempet salah ngeden, sy nutup mata padahal ga boleh. Meski sadar itu salah, dokternya cuma bilang, “Ibu, jangan tutup mata ya. Sekali tarikan nafas bisa 2-3 kali ngeden ya. Ayo coba lagi.” Sambil menunggu “rasa itu datang”, ku ingat jelas dokternya bediri dekat meja dengan santai, terus memberikan semangat dan afirmasi positif sampai 4-5 kali ngeden, bayi cantik kami lahir pada pukul 20:28 WIB. Alhamdulillah wa syukurilah. Rasa sakitnya terbayar sudah!

Begitu selesai dipotong tali pusernya dan dilap pake handuk, Iona langsung diletakkan diatas dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini) sementara dokternya menunggu plasenta keluar dan langsung ambil posisi untuk “menjahit”. Jadi, tadi begitu mau bayi nya mau keluar, dokternya ambil gunting dan “casssss” sayapun digunting dijalan lahir. Alhamdulillah 3 jahitan. Katanya karena anak pertama gapapa dijahit. Padahal sempat sedih kenapa mesti dijahit, tapi harus ikhlas karerna dokter tau yang terbaik. Yang penting kami berdua selamat.

Proses persalinan tiap orang pasti berbeda, mau normal maupun C-section, semua sama! Tidak ada yang lebih baik. Karena dokter tau yang lebih baik untuk keselamatan ibu dan bayi. Jadi, stop judging tentang cara yang dipilih ibu-ibu untuk melahirkan anaknya. Yang penting, doakan agar persalinan lancar, anaknya sehat dan ibunya cepat pulih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<