Welcome to

Maya Susanti

Home / Personal Story / Kembali Masuk Kerja

Kembali Masuk Kerja

Waktu memang cepat berlalu ya, rasanya baru kemaren naik bus Transjakarta dua hari sebelum lahiran, eh sekarang sudah saatnya masuk kerja. Cuti melahirkan 3 bulan sudah habis, kini saatnya kembali eksis! (Baca: kerja).

Bagi setiap mamak baru, masuk kerja setelah lahiran itu pasti punya cerita tersendiri. Saya bahkan sempat blog walking untuk tau pengalaman-pengalaman para pendahulu (seperti biasa, namanya juga belajar bisa dari mana saja ya! hehe). Diantara cerita itu, ada yg dilema dan galau ninggalin anak, ada yg masuk kerja baru bentar trus langsung resign karna kepikiran terus. Ada yang biasa aja, tapi ada juga kok yang antusias. Nah, saya yang mana ya? Saya termasuk yang mendekati antusias. Maksudnya? Kenapa pake kata “mendekati”? Kenapa ga bener-bener antusias?

Di dunia ini, semua orangtua pasti menyayangi anaknya dan ingin selalu berada di dekat mereka untuk melihat perkembangannya. Bagi saya, ini tentu membuat dilema karena saya sudah bisa dipastikan tidak bisa bersama anak 24/7 ketika cuti melahirkan berakhir. Karena ya saya berstatus keryawan yang punya rutinitas 9-5 Senin hingga Jumat. Di sisi lain, saya adalah orang yang tidak bisa terlalu lama berdiam diri, bekerja bagi saya bukan semata-mata mencari uang, tapi tentang hidup, pilihan dan cita-cita. Berhubung suami dan keluarga mendukung untuk terus bekerja, jadilah sekarang saya menjadi mamak baru sekaligus karyawan. Makanya saya termasuk golongan mendekati antusias. Hehe.

Trus, Iona gimana? Siapa yang jaga? Ini pertanyaan paling sering saya terima sejak melahirkan. Karena saya dan suami sudah sepakat untuk menggunakan fasilitas daycare, jadi ya jawabannya: Iona akan ikut ngantor, tapi dia di daycare (sebelah kantor saya), dan InshaAllah akan baik-baik saja. Alhamdulillah keluarga semua mendukung, punya ibu dan mertua yang sama-sama bekerja, mereka maklum akan pilihan ini. Apalagi kami tidak tinggal satu kota dengan mereka, jadi mereka mendukung. Tapi pernah suatu kali, seorang teman bertanya kepada saya yang membuat saya mikir “APA? DAYCARE? IH KOK TEGA? IH MAHAL.” Tapi saya teguhkan pikiran. Akhirnya saya jawab dengan jawaban standar dan saya senyumin aja sih. Setelah dipikir-pikir, yang terpenting bagi saya, suami dan keluarga mendukung. Opini orang lain mah bebas, toh yang ngejalanin ya saya dan suami, yang bayar juga uang suami saya. InshaAllah ga ganggu orang lain. Hehe.

Nah, setelah memastikan Iona bisa di Daycare (mau masuk aja antre loh! Ga semua dapat). Saya menyiapkan diri untuk kembali bekerja. Dukungan suami sih nomer satu ya. Dia yang udah nanyain terus apakah saya butuh beli baju baru, sepatu baru dan tas baru untuk ngantor. Hahaha kok doi yang malah lebih prepare ya. Alhamdulillah, akhirnya saya beli beberapa keperluan sebelum ngantor atas saran suami. Kalo untuk alat pumping dan perlengkapannya (yang paling penting sebenarnya), sebelum anak lahir juga udah dibeliin. Hehe.

Sekarang setelah masuk kerja, saya targetkan untuk bisa pumping 3 kai sehari. Jam 9an, jam 1an dan jam 4an sebelum pulang. Alhamdulillah sejauh ini produksi ASI masih lancar, sempat berkurang waktu saya drop. Doakan lancar terus ya. Aamiiin. Kata teman-teman yang udah berpengalaman, yang penting happy, ASI InshaAllah berlebih. Aamiiin. Tapi tentu tidak semudah itu sis, saya juga mati-matian catch up dengan kerjaan di kantor. Berusaha tetap bisa optimal meski kini harus menyisihkan waktu untuk pumping. Untungnya di kantor ada ruang laktasi khusus untuk pumping dengan kulkas dan sofa nyaman. Jadi sambil pumping bisa istirahat bentar.

Setelah masuk kerja, saya jadi gampang capek, hiks. Biasanya bisa masak tapi karena kecapean dan akhirnya drop setelah dua minggu ngantor, saya jadi lebih banyak beli lauk atau makanan jadi untuk makan siang dan malam. Bahkan sarapan aja kadang kami beli setelah antar Iona. Pengeluaran jadi lebih banyak sih, tapi prinsip kami, asal masih ada uang (tidak mengganggu tabungan), ga masalah. Kewarasan, kesehatan dan kebahagiaan kami sebagai suami-istri lebih penting. Jadi, kalo saya ga sempat masak, suami yang masak. Kalo lagi males, ya beli. Zaman udah canggih, semua tinggal klik. Syaratnya cuma punya uang. Caranya? Yha kerja, kerja dan kerja.

Masuk bekerja (lagi) setelah cuti melahirkan itu penuh cerita suka dan duka. Kerja harus semakin bermakna untuk “mengganti waktu” yang telah digunakan tidak bersama anak. Tapi saya tetap salut untjk Ibu-Ibu di luar sana yang memutuskan bersama anaknya 24/7. Kalian hebat, kalian luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<