Welcome to

Maya Susanti

Home / Activities / After HI (2)

After HI (2)

“Slow down and enjoy life. It’s not only the scenery you miss by going to fast – you also miss the sense of where you are going and why.” ¬†-Eddie Cantor-

Meneruskan postingan sebelumnya, bagi seorang fresh graduate sepertiku, pertanyaan seperti: “Mau lanjut kuliah dimana?” atau “Ada rencana untuk pindah ke stasiun TV lain?” acap kali menghampiriku. Pada awalnya, aku menganggap pertanyaan semacam ini sebagai bentuk dari perhatian orang-orang disekelilingku. Tapi percayalah kawan, segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik. Pertanyaan semacam ini tak urung membuatku jengah jika ditanyakan berulang kali oleh orang yang sama, dengan mimik muka yang sama, dan dalam waktu yang tidak terlalu berselang lama. Mungkin semacam pertanyaan “sudah sampai bab berapa?” dan “kapan lulus?” yang ditanyakan pada mahasiswa tingkat akhir.

Yang mungkin membedakan pertanyaan yang dilontarkan kepadaku dibandingkan dengan pertanyaan mengenai skripsi/tugas akhir terletak pada tingkat kegalauannya. Kata ayahku, beliau lebih pusing memikirkan anaknya yang telah lulus kuliah dibandingkan memikirkan biaya pendidikan untuk meneruskan pendidikan anaknya. Menurutku, ayahku ada benarnya, karena kehidupan setelah masa perkuliahan adalah kehidupan yang sama sekali berbeda dari tahap-tahap sebelumnya. Aku sama sekali tidak memudahkan urusan skripsi atau tugas akhir lainnya, aku percaya itu adalah masa-masa terberatdan tergalau bagi seorang mahasiswa. Tapi, setelah melewatinya, aku tau, ada banyak hal lain di luar sana yang lebih memusingkan, lebih membuat galau.  Salah satunya adalah kehidupan setelah perkuliahan usai.

Ada begitu banyak hal yang ingin aku lakukan setelah masa perkuliahan selesai. Ingin mencoba ini-itu dan mengikuti ini-itu. Diantara banyak pilihan yang kubuat, salah satunya adalah pilihan untuk menikmati masa-masa menjadi angkatan kerja produktif. Dengan kata lain, aku pilihan ini membuatku menjalankan konsekuensinya sebagai sarjana muda yang bekerja dan menikmati pekerjaannya.

Jadi, disinilah titiknya. Pilihan itulah yang kuambil. Pilihan untuk menikmati pekerjaan sambil menikmati beragam hal. Dalam proses dan perjalanan selama menjalani pilihan ini (hampir empat bulan, kuhitung sejak Februari 2014), ada banyak pelajaran hidup yang aku nikmati. Bukan pelajaran berat yang mengharuskan ujian diakhir pertemuan, tapi justru pelajaran kecil yang tak urung membuatku berpikir dan berkontemplasi.

Pertama, aku belajar menerima. Kehidupanku terdahulu adalah kehidupan yang melatihku menjadi pribadi yang mandiri dan bisa melakukan segala sesuatu secara sendiri. Untuk hal ini, teman-temanku kerap menempelkan kata-kata semacam “independent” atau “tough” di tengah-tengah namaku. Kondisi ini membuatku sulit menerima kebaikan orang lain. Kadang, aku terlampau keterlaluan sampai terus bertanya alasan seseorang berbuat baik padaku. Di satu sisi, ini adalah tingkat kewaspadaan diri yang baik, bentuk pertahanan hidup jauh dari orangtua. Tapi di sisi lain, ini adalah keegoisan semata, keegoisan yang berpotensi menjadi suatu kesombongan. Mengapa? Karena kita tidak boleh menolak bantuan orang lain kepada kita, karena kebaikan itu adalah amal ibadahnya kepada Tuhannya. Jika berpikir sesederhana seperti ini, maka harusnya kita bisa belajar menerima kebaikan orang. Karena sesungguhnya, hanya Tuhanlah yang memiliki kekuasaan untuk menggerakkan hati manusia untuk berbuat baik, tak pandang bulu kepada siapapun dan dalam kondisi apapun.

Pelajaran untuk menerima dengan ikhlas harusnya adalah pelajaran yang mudah kalau saja aku bisa menerima logika berpikir sederhana seperti di atas. Hanya saja, pemikiran seperti itu baru aku dapatkan setelah suatu hal terjadi. Adalah Uni Vera yang Tuhan hadirkan untuk membantuku di masa-masa sulit pengerjaan tugas akhir (TKA) kuliah. Uni Vera adalah sahabat sekaligus menjelma sebagai kakak perempuan yang tak bosan memberikan pertolongan kepadaku. Mulai dari menyediakan waktu mendengarkan keluhanku, hingga menyiapkan segala keperluan untuk wisudaku. Sampai pada satu momen dimana aku bersikap kurang ajar padanya karena aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia terlalu banyak menolongku. Karena sifat burukku dengan pikiran negatif begitu menguasai diriku dan membuatku berpikir bahwaa semua kebaikan yang dia lakukan adalah hal yang terlalu “lebay”. Disinilah keegoisanku bermain, menghancurkan semua nilai-nilai pertemanan yang kami rajut sejak 2009. Nanti, aku berjanji akan membuat postingan mengenai perjalananku bertemu dengan super mentorku, Uni Vera aka Vera Damayanti.

Cerita diatas mungkin sedikit membingungkan dan terpotong-potong seperti puzzle, tapi yang ingin coba aku sampaikan adalah, aku tahu aku belajar dari peristiwa ini. Aku kini belajar menerima. Aku kini belajar untuk memahami. Aku pun berjanji untuk tidak menolak kebaikan orang yang diberikan oleh orang-orang yang menyayangi kita (untuk kebaikan kita).

Kedua, aku belajar berkompromi. Sifatku yang keras dan egois nampaknya adalah bawaan dari lahir yang murni menjadi sifat burukku. Aku bisa menjadi sangat egois dan mementingkan diri sendiri tanpa sedikitpun merasa simpati dan empati terhadap orang lain. Di masa-masa tertentu, aku bahkan menjadi sangat keras dan selalu merasa benar. Aku pernah cukup lama memikirkan dari mana gen ini aku dapatkan. Aku tau ibuku adalah wanita yang keras, tegas dan berpendirian kuat. Kalau tidak, mana mungkin kelima adik perempuannya sukses dan hidup bahagia seperti sekarang. Sebagai anak perempuan pertama, Ibuku adalah panutan utama bagi kelima adik perempuannya. Tapi kerasnya Ibuku adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang memang seharusnya beliau lakukan. Karena pada dasarnya, sifat Ibuku adalah demi sesuatu yang ia perjuangkan, masa depannya. Jadi, jelas sifat kerasku bukan dari Ibuku. Lantas, apakah itu dari Ayah? Kurasa juga bukan. Ayah memang keras, tak jarang keinginanku ditentangnya, tapi semuanya didasarkan pada alasan dan logika yang masuk akal. Ayah, meskipun sangat keras, sejatinya adalah pribadi yang lembut dan mencintai keluarganya. Jadi, kurasa bukanlah Ibu maupun Ayah yang mewariskan sifat buruk ini.

Tapi, aku toh tidak akan bisa hidup berdampingan dengan yang lainnya jika akan tetap memelihara sifat buruk ini. Aku harus berkompromi. Aku harus belajar melunak dan tidak terus-menerus ingin menang sendiri. Dan disinilah, aku menyadari aku memang harus belajar. Selama ini, aku dibiarkan untuk terus merasa benar, hingga kebenaran yang sebenarnya adalah keniscayaan menjadi suatu hal pasti yang harus terus berada dipihakku. Apapun kondisinya. Ini adalah sesuatu yang buruk. Di sini, aku belajar. Belajar bahwa dalam suatu hubungan (baik pertemanan maupun percintaan), haruslah memiliki asas kompromi. Bahwa tidak semua hal harus diakhiri dengan usaha untuk mencapai kebenaran. Aku kini belajar untuk mengeliminasi sedikit demi sedikit sifat keras kepala dan egoisku. Aku belajar memahami. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih vibrant, lebih bersahaja.

Untuk kasus kompromi ini, akupun berkompromi dengan diriku sendiri, dengan mimpi-mimpi yang hingga kini masih akan tetap aku perjuangkan. Salah satunya adalah untuk melanjutkan pendidikan di universitas favorit di luar sana. Ayah, dengan segala kerendahan hatinya memintaku untuk melanjutkan pendidikan di kota yang sama universitas terdahulu. Aku tahu beliau punya banyak alasan yang logis untuk permintaannya ini. Tapi aku masih ingin berkompromi, aku rasa aku masih punya kesempatan untuk meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja meski berada ratusan bahkan ribuan kilometer jauh darinya. Dan inilah salah satu alasan mengapa aku belum melanjutkan pendidikan. Tapi, dalam hal seperti ini, aku rasanya akan tetap keras kepala untuk mewujudkan impian masa kecilku. untuk itu, maafkanlah kekerasan hati ini

Jadi, meski aku merasa aku tidak melakukan banyak hal yang signifikan sejak menyelesaikan pendidikan perkuliahan, aku merasa aku telah banyak memotret momen-momen berharga dalam hidup. Aku jadi banyak belajar. Dulu pun aku belajar mengenai nilai-nilai kehidupan, tapi pelajaran yang kau dapat dari pengalaman langsung akan terus membekas di hati. Lebih dari itu, pelajaran semacam ini akan membuatmu menjadi lebih dewasa dalam bertindak nantinya. Dan aku percaya aku sedang dalam perjalanan menuju ke arah sana. Bahwa sesungguhnya, di setiap hal yang kecil terdapat banyak hal yang dapat kita pelajari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<