Welcome to

Maya Susanti

Home / On Thought / QnA Session on Family and Parenting

QnA Session on Family and Parenting

Usia pernikahan saya dan Ramdhan hampir genap satu tahun. Alhamdulillah kami langsung diberikan amanah untuk memiliki buah hati yang kini berusia tiga bulan lebih. Rasanya senang sekali akhirnya kami memiliki keluarga kami sendiri. Sekarang kalo pergi-pergi bertiga, rasanya semakin lengkap karena sekarang kami pergi sebagai satu keluarga, suatu hal yang sudah kami impikan bahkan sejak sebelum menikah.

Sehari-hari, kami adalah bagian dari kelas pekerja Jakarta yang mencari nafkah di ibukota, sambil menjalankan kehidupan rumah tangga dan membesarkan anak pertama. Semua kami lakukan berdua, just the two of us. Saya dan Ramdhan, suami saya. Pernah suatu kali rasanya ingin sekali punya ART atau nanny, tapi akhirnya batal karena kami memilih untuk menjalani semuanya berdua, dengan suka-dukanya. Dalam perjalanan, tak sedikit yang bertanya bagaimana bisa tetap survive, bagaimana menjalankan ini dan itu. Karena terlalu banyak yang bertanya hal serupa, saya jadi punya ide untuk menuliskannya. Siapa tau ada yang mungkin nanya lagi, atau paling tidak kalo ada yang nanya saya sudah paham betul harus menjawab apa biar ga baper. Dan yang terpenting, kalo nanti saya mulai pusing, saya akan membaca kembali tulisan ini agar tetap waras dan semangat. Berikut ini sejumlah pertanyaan yang sangat sering saya terima akhir-akhir ini.

Kenapa memutuskan untuk segera punya momongan?

Kami percaya anak itu adalah salah satu bentuk rezeki. Saat merencanakan pernikahan, kami sepakat untuk tidak menunda kehamilan. Memang diatas kertas, kami mungkin belum begitu siap dan belum mapan karena belum punya rumah dan jauh dari orangtua. Kami hanya berdua di Ibukota. Tapi kalau harus menunggu sampai mapan, dimana indahnya perjuangan bersama. Ceilah. Jadilah kami memutuskan untuk tidak menunda, kami memutuskan untuk menikmati perjalanan hidup membangun keluarga baru.

Apakah bisa ngurus bayi hanya berdua dengan suami?

Bisa. Asal suaminya juga willing untuk bantu ya. Kalo semua hal harus istri yang ngerjain, ya modyar. Udah sering dibantuin aja, saya sempat drop. Apalagi sama sekali ga dibantuin? Intinya ya kerjasama, kalo istri ngurus anak, nyuci baju anak, nyetrika, cuci piring, nyapu dan beberes, ya suami bisa bantu masak. Di keluarga kecil kami, suami tugasnya antar-jemput, bantu belanja mingguan kalo istri ga bisa, bantu masak dan ngajak anak main. Sisanya, tugas rumah tangga diurus istri. Kami mengerjakan semuanya sendiri kecuali untuk laundry baju (underwear cuci sendiri dong ya). Karena laundry hanya untuk cuci dan lipat, jadi baju kerja disetrika sendiri. Kapan? Diusahakan sekali seminggu aja waktu anak sudah tidur. Yang penting setrika semua baju anak, baju kondangan dan baju kerja 5-7 pasang. Hahahhaa. Kami masak, tapi kalo lagi malas, ya bikin yg instan aja atau beli.

Apakah suami tidak keberatan? Kan tugasnya cuma cari nafkah?

InshaAllah suami saya tidak keberatan ya. Betul tugas utamanya mencari nafkah, tapi yang tidak kalah penting adalah statusnya sebagai kepala keluarga. Nakhoda untuk kapal rumah tangga kami. Jadi harus ikut memastikan kapal rumah tangga kami tidak oleng. Kalo salah satu cara untuk tidak oleng adalah dengan ikut bantu urus hal-hal rumah tangga, ya ga masalah toh? Suami saya masak karena dia memang suka masak dan biasanya masakannya lebih enak dari yang saya masak. Saya memujinya dengan tulus dan dia bahagia. Suami saya juga cuci piring dan nyapu rumah kalau dia melihat saya sudah kecapean dan lagi ngurus anak. Tapi saya usahakan dia untuk tidak mencuci dan menyetrika karena dia mungkin tidak terbiasa melakukan kedua hal ini. Selebihnya, dia bisa membantu saya mengurus rumah tangga. Saya mengerti dia pasti juga kelelahan mencari nafkah sepanjang hari, tapi kami percaya urusan rumah tangga bukan cuma urusan istri. Keikutsertaannya dalam mengurus rumah tangga akan memberikan nilai lebih baginya sebagai seorang suami dan ayah, dan ini nilai yang ingin kami bagikan kepada anak-anak kami kelak. Bahwa suami-istri adalah satu tim. Harus saling bekerjasama dan saling membantu.

Orangtua dan mertua dimana kok ga bantuin?

Orangtua dan mertua saya tidak tinggal di Jakarta. Ibu saya di Sekayu sementara Ibu Mertua di Jogja. Keduanya bekerja, Ibu saya PNS, dan Ibu Mertua saya seorang dokter yang punya klinik. Jadi mereka punya kegiatan masing-masing. Tapi mereka bantuin kok, sering nanya dan menjadi sumber tempat saya bertanya. Bagi saya, dukungan mereka lebih dari cukup. Kalau ada teman-teman yang dibantu orangtua dan mertua dalam mengurus anak, mungkin itu rezeki mereka. Kami tidak pernah mengeluh karena kami yakin rezeki kami ada dalam bentuk lain, dan tentunya karena rezeki tidak akan pernah tertukar.

Masih kerja, kenapa ga resign aja?

Masih. Sebelum menikah, suami sudah mengizinkan saya untuk tetap bekerja. Resign bukan pilihan karena memang tidak pernah ada dalam pilihan. Tapi saya punya mimpi untuk pensiun dini jadi nanti bisa menikmati masa tua. Tapi itu nanti, tidak sekarang. Sekarang saatnya bekerja dulu, memperkaya diri dengan ilmu, karna kelak untuk anak juga. Bekerja bisa membuat kita happy, salah satu hal penting untuk membesarkan anak. Lagian, pekerjaan saya “hanya” pekerjaan kantoran yang masih memungkinkan saya untuk memprioritaskan keluarga saya. It’s a best deal by far. Kalo nanti keluarga menuntut lebih, ya akan saya pikirkan juga nanti.

Setelah masuk kerja, siapa yang jaga?

Iona kami titipkan di DayCare. Dijaga oleh caregivernya. Letaknya ada disebelah kantor saya, tinggal ngesot kalo mau jengukin. Bisa di cek lewat CCTV juga. Tapi intinya, kita ga boleh kepikirna terus, karena nanti anaknya juga kepikiran.

Kenapa milih DayCare, kan mahal?

Daycare bagi kami adalah pilihan terbaik sejauh ini. Untuk kami yang ingin bertemu anak pagi sampai jam 8 dan sudah mau bertemu anak jam 5 sore — yang tidak mungkin dilakukan kalo anak di rumah bersama nanny. Ya kan Jakarta macet ya, nyampe rumah mungkin udah jam 7-8 malam. Anak udah tidur. Daycare juga adalah pilihan bagi kami yang menjadi bagian dari kelas pekerja di Jakarta. Kami memang merogoh kocek yang tidak sedikit, bisa dibilang cukup banyak. Tapi kami yakin rezeki anak pasti ada aja. Yang penting sejauh ini cukup. Hehe.

Ga pengen punya ART atau nanny?

Saat saya drop beberapa waktu lalu, rasanya pengen langsung hire ART untuk bantu beres-beres rumah. Tapi setelah mendengar cerita temean kantor yang punya drama ART, niatnya langsung diurungkan. Kami memilih untuk capek dan beli makanan di luar daripada harus pusing mikirin ART, belum lagi kondisi kami yang masih menyewa apartemen akan sulit jika harus “berbagi” rumah dengan orang lain. Saya sendiri masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ada orang lain di rumah, hehe.

Apakah masih bisa ngurus rumah dan masak?

Bisa. Sebelum masuk kerja kembali, saya maish sempat bikin sarapan, masak makan siang dan malam. Masih sempat cuci, nyapu, ngepel, nyetrika dan beres-beres. Anak juga tetap keurus. Setelah masuk kerja, seringnya keburu capek kalo mau masak. Tapi tetap bisa kok masak, konsekuensinya jadi lebih malam masaknya.

p

Memang ada banyak sekali cerita, suka dan duka membangun keluarga dan membesarkan anak tanpa bantuan oranglain. Tapi kami yakin, cerita inilah nanti memberikan nilai lebih kepada keluarga kami. Above all, saya ingin memberikan salutations dan apresiasi tertinggi untuk suami saya, M. Ramdhan Abdurasyid. Tanpa dukungan darinya, saya pasti sudah stres dan depresi. He keeps me sane and alive. Thank you sayang. I love you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<