Welcome to

Maya Susanti

Home / On Thought / Menikah Muda, Menunda Mimpi?

Menikah Muda, Menunda Mimpi?

 

Abis baca IG Story, ada yang bahas tentang nikah muda (muda: sekitar umur 25 tahun). Katanya banyak yang menyesal karena ada beberapa impian yang tertunda (mostly: kuliah di luar negeri) dan impian travelling yang menguap setelah menikah dan punya anak.

Saya hanya ingin turut meramaikan, seperti biasa menulis dengan pandangan saya sendiri. Dan seperti biasa, tujuannya hanya untuk reminder disini sendiri (baik untuk bersyukur ataupun untuk memotivasi diri). Jika pada akhirnya bisa jadi referensi dan inspirasi, ya syukur. Jadi, disclaimer-nya: semua tulisan saya di blog ini bagian dari antibaper-baperklub.

Saya menikah di usia 25 tahun, punya anak usia 26. Ada yang bilang ini usia yang cukup matang, kelewat matang malah kalo di kampung. Haha. Tapi dengan kehidupan milenial kini, umur 25 masih bisa digolongkan muda. Jadi ya bebas ya mau bilang muda apa tua. Intinya kan mau cerita pengalaman pribadi nikah umur 25. Hehe.

Saya menikah setelah menyelesaikan S2 di luar negeri (di Scotland, UK) dengan beasiwa penuh dari pemerintah. Saya menikah ketika sudah menjadi karyawan di salah satu BUMN. Sebelumnya, sudah bekerja selama tiga tahun lebih sebagai jurnalis. Saat kuliah S1 saya juga mendapat beasiswa penuh di jurusan dan kampus favorit saya. Lewat pengalaman saat kuliah S2 di luar negeri  dan menjadi jurnalis, Alhamdulillah saya sudah cukup puas travelling. Baik itu murni travelling, nyambi sekolah, berbungkus student exchange program sampai liputan dan training dari kantor. Meski disambi kegiatan lain, ya tetap ada hari-hari yang disiapkan untuk travelling. Mulai exchange program di Belanda dan Vietnam selama sebulan, umroh gratis dari kantor, jadi youth representative di konferensi PBB di Afrika Selatan dan Maroko (Afrika Utara), training di Malaysia dan Amerika Serikat selama sebulan, backpacker bersama saudara di Singapore, jalan-jalan fancy di Eropa hingga solo travelling di Peru, Amerika Selatan. Benua yang belum dikunjungi hanya Australia— selain Antartika tentunya. Di Indonesia, sudah jalan-jalan di 19 propinsi. Belum ke Kalimantan dan Papua sih, tapi semoga segera dapat kesempatan kesana secepatnya. Masih banyak ya yang belum? HAHA.

Dari cerita di atas, kalo alasan menyesal menikah muda adalah karena belum S2 di LN dan belum puas travelling, saya bisa bilang saya tidak menyesal menikah muda. Alhamdulillah saya sudah mendapatkan kedua experience tersebut.

Menurut saya, umur 25 itu relatif cukup kalo mau mendapatkan kedua pengalaman, S2 dan travelling. Asumsinya selesai S1 umur 22 tahun. Langsung cari kerja. Kerja 1-2 tahun, nabung kan ya, jadi kalo dapat cuti bisa jalan-jalan. Trus sambil kerja mulai persiapan apply S2 dan beasiswa. Let’s say, umur 24 berangkat sekolah, di UK sih S2 cuma setahun, jadi umur 25 selesai. Travelling tadi pas sambil kerja dan pas sekolah. Manfaatkan waktu untuk fokus belajar dan travelling. Emang bisa? Bisa kok, ini lumrah dilakukan oleh mahasiswa di luar negeri. Syaratnya cuma keahlian dalam time management. Saya sendiri selesai kuliah umur 21 tahun enam bulan, sudah mulai bekerja saat umur 20 tahun. Berangkat sekolah umur 23 tahun, selesai umur 24 tahun. Jadi kerja lagi setahun sebelum menikah umur 25 tahun (pindah kantor).

Saat kami menikah, umur suami saya 28 tahun, kami beda 3 tahun. Saat menikah, dia juga sudah menyelesaikan S2 di UK, sudah punya pengalaman kerja dan menurutnya sudah puas jalan-jalan, karena dia memang suka travelling. Saat menikah, kami belum punya rumah, hanya punya tabungan modal nikah dan modal hidup di tahun pertama pernikahan. Sekarang setelah setahun menikah, kami masih belum punya rumah, tapi kami tidak keberatan asal punya tabungan investasi pendidikan anak dan jaminan kesehatan. Punya rumah di tengah kota Jakarta sejauh ini masih mimpi, sementara KPR di countryside bukan pilihan bagi kami, macetnya ga tahan sih. Jadi, kalo mau menunda nikah karena menunggu mapan, silahkan saja. Tapi bagi kami, pengalaman seperti halnya S2 di LN dan travelling ke penjuru dunia sudah lebih dari cukup dan memang harus dimiliki sebelum menikah. Lebih kepada memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk berkembang, mengenal diri sendiri, melihat dan mempelajari hal baru hingga akhirnya jadi bisa menjadi lebih toleran dan selalu bersyukur. Nilai-nilai yang menurut saya penting.

Nah, pertanyaannya. Apakah bisa? Jawabannya pasti bisa. Saya bukan kalangan siswa yang selalu mendapat peringkat pertama, tapi saya salah satu yang termasuk punya mimpi dan willingness untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman terbaik. Bersyukur, keluarga saya juga sangat mendukung, terutama ibu saya. Kebayang dong, saya anak daerah yang bisa kuliah di UI —dengan beasiswa penuh — adalah sebuah anugerah. Apalagi sampai bisa kuliah ke luar negeri tanpa uang sepeserpun.

Tentang menunda mimpi setelah menikah, ini lain cerita. Saya termasuk orang yang selalu merencakan hidup sesuai rencana jangka pendek, menengah dan panjang. Mimpi untuk S2 dan solo travelling ke negara lain yang lokasinya jauh sudah terwujud sebelum menikah sebagai rencana hidup jangka pendek. Kini setelah menikah, travelling tentu bukan hal mudah untuk diwujudkan. Selain pertimbangan biaya, keribetan bawa bayi saat travelling juga menjadi konsiderasi utama. Jika ada pertanyaan tentang hal yang masih ingin saya lakukan sebelum menikah, saya bingung mau jawab apa. Rasanya sudah puas karena saya yakin hidup ini banyak fasenya. Kini saya ada dalam fase menjadi istri dan ibu. Impian-impian seperti melanjutkan sekolah, jadi dosen atau kembali siaran masih tetap saya simpan. Keinginan ini adalah bagian dari rencana dalam jangka menengah dan panjang, jadi jelas bukan sesuatu yang saya tunda karena menikah, melainkan hal-hal yang saya siapkan untuk nanti diwujudkan dalam perjalanan sepanjang pernikahan.

Jadi ya memang, kalo tidak ingin menyesal, mungkin sebaiknya manfaatkan waktu untuk meraih apa yang ingin didapat sebelum menikah. Pelajari dan terapkan time management yang baik untuk diri sendiri. Jangan menzolimi diri dengan tidak memberikan kesempatan baik pada diri sendiri. Yailah cem bener banget ya. haha. Anyway, menjadi istri dan seorang Ibu bukan pekerjaan mudah, ini harusnya bisa digolongkan sebagai suatu impian, something to work for meski ada yang beranggapan ini adalah fase hidup yang naluriah, ada kodratnya. Sah-sah aja beranggapan seperti itu, sesuai kepercayaan saja.

Tapi jika sudah terlanjur menikah dan belum mewujudkan cita-cita seperti kuliah di LN, punya pekerjaan tetap, sampe travelling ke negara impian, ya jangan menyesal juga. You deserve all those things but of course it required a hardwork. So, dream it, go for it. Banyak kok yang kuliah setelah menikah, malah lebih seru karna bareng suami (yang aku lihat dari pengalaman teman-temanku), banyak juga yang jalan-jalan sambil bawa bayi dan anak-anaknya. (terlihat rempong tapi family goals banget). Seperti salah satu quote yang pernah saya baca dan yakini, “you can have it all but not at the same time.” Good luck, self! Good luck to you, fellas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To get the latest update of me and my works

>> <<